Sajak Pendek

— dirimu; nyanyian, yang selalu dilagukan sepi.
teramat merdu, meninabobokan mimpi

 

— Ini kopiku, mana susumu.

 
— Waktu terbaik untuk menulis puisi;
ialah ketika banyak cinta di hati,
namun tak ada satu pun hati tempat membagi.

 

— Ada yg menjual janji manis demi kekuasaan,
ada yg menjual tubuh karena kelaparan.
Keadilan pulas di ranjang uang.

 

— Sedang Ia sangatlah pemurah,
lantas mengapa kau bisa menjadi begitu pemarah

 

— Dengan menyebut nama Tuhan yang maha pengasih,
aku memohon untuk dijauhkan dari cinta yang pilih kasih

 

— Andai bisa memilih terlahir kembali,
aku pilih tetap menjadi hitam yg kau hinakan,
ketimbang putih yg membinasakan

 

— ketika tuhan menulis puisi;
“kun!” jadilah kita,
kata-kata yang menemukan luka sebagai takdirnya

 

— Di depan katedral,
aku menunggu bersama dzikir yg memohonkan kamu.
“Tuhan, bukankah kami sama-sama mengingatmu!”

 

— Rindu itu mata arah,
menuju apa-apa yang tak mampu kau miliki.

 

 Ibu memasak nasi goreng tadi pagi.
Aku melahapnya sambil berdoa;
kelak kamu akan melakukan juga untuk anak kita.

 

 Buatlah satu permintaan, cinta;
untuk kuperjuangkan, untuk kudoakan.

 

 Pada suatu hari nanti,
aku ingin mencuri pikirannya Sapardi,
biar tak letih mencarimu di sela-sela huruf sajak ini.

 

 Mungkin,
hanya puisi yang mau menerima cinta,
tanpa pernah meminta bahagia.

 

 Merindukanmu;
merendakan harap pada setapak angan,
merelakan asa bersama sekepak angin

 

— Kau mengubah semua menjadi cinta yang baik,
hanya dengan sebuah senyuman.

 

— Dia yang memilih untuk berpaling dari cintamu,
seringkali berpulang dalam rupa kenangan.

 

— Kelak, yang akan kau ingat dariku,
adalah semua hal yang hari ini ingin kau lupakan.

 

— Tuliskan sebuah puisi indah untukku,
setelahnya,
bahasakan ia dengan ciuman yang mesra.

 

— Adakah yang melebihi,
roman kerinduan seorang gadis pada kekasihnya;
ia bangun rumahrumah puisi, di sepanjang jalan penantian.

 

— Sesederhana cintanya, Sapardi,
aku ingin mencintaimu,
dalam puisi hujan di senja januari.

 

— Kita,
tak lebih dari orang-orang asing yang diperkenalkan cinta,
untuk kemudian dipisahkan oleh kebahagiaan masing-masing.

 

— Tetaplah menjadi kenangan, cinta,
biar masa laluku tidak merasa asing;
pada hingarnya masa depan.

 

— Cinta, bangunkan aku dari lelap,
ketika waktu tak lagi memberi jeda bagi rindu untuk berdetik,
dalam detak jantung yang sepi.

 

— Rindu ialah hak bagi semua hati yang memiliki cinta,
dan setia;
adalah kewajiban yang kerap kau abaikan.

 

— Dari sekian banyak cara meraih kebahagian,
aku pilih menjadi orang yang kau butuhkan;
sebagai cinta.

 

— Mungkin Tuhan mencitrakan engkau,
dengan sebaik-baiknya, cinta;
pati dari segala surya, cerlang bagi mata yg memandang.

 

— Pada akhirnya,
kau takkan mengenali apapun tentangku,
kecuali hatiku yang selalu mengenali rindumu.

 

— Kita pernah berjuang menantang takdir.
Lalu berujung sia-sia,
sebab waktu yang tak acuh;
menanggalkan cinta, meninggalkan duka.

 

— Bahkan, dalam keramaian yang paling riuh,
selalu dapat kudengar derit daun jendela kenangan,
yang terayun-ayun angin rindu.

 

— Hatiku riak laut tanpa gelombang.
Kemudian cintamu datang,
serupa petir menyambar; menunggangi arus pasang.

 

— Berjanjilah padaku,
kelak saat cinta ini mati,
kau takkan membunuh hidup.

 

— Pada redupnya kenangan,
selalu ada yang menyala dengan begitu terang;
unggun-unggun api rindu.

 

— Sebab nama ialah semacam doa,
akan kunamai engkau sebagai cinta,
kelak dari rahimmu lahir anak-anak kebahagiaan kita.

 

— Sesekali, kutuliskan nama cinta selain milikmu,
pada puisi kerinduan;
sebab aku rindu cemberutmu memendam cemburu.

 

— Mungkin Tuhan tersenyum,
pun terbahak.
Setiapkali kusebut namamu dalam doa;
memintakan takdir yang tak pernah Ia tuliskan.

 

— Atas nama cinta,
aku ingin meminangmu pada kebahagiaan.
Sesudahnya,
akan kugarisbawahi nama kita dengan pena keabadian.

 

— Tuliskan sebuah puisi untukku,
dengan cinta ada di permulaan,
dan kita mengisi bait-baitnya,
tanpa perlu kauberi penutupan.

 

— Pada wajah yang dipenuhi oleh kerutan waktu,
selalu kutemukan cinta yang tiada pernah menua,
tak tersentuh usia, milik ibuku.

 

— Sepasang mempelai, berdampingan di pelaminan.
Mereka bergenggaman tangan,
sedang hatinya memeluk masa lalu masing-masing.

 

— Kuberikan engkau sedikit cemburu,
sebagai cambuk bagi hatimu yang tengah meragu,
hilang pandu karena rindu.

 

— Kemana lagi engkau hendak bertualang, cinta?
Tidakkah kaulihat,
ada begitu banyak rindu yang belum sempat kau petik.

 

— Untuk semua kebaikan cinta,
ambillah kebahagianku sebagai upahnya.

 

— Bagaimana caramu mengelabui waktu,
hingga ia tertipu,
dan kau pun kekal dalam kenanganku — tiada tersentuh usia.

 

— Kelak pada suatu ketika,
aku ingin menjadi alasan yang membuatmu terluka;
di saat cinta,
meniadakan kita untuk sementara.

 

— Pada sebuah hati,
aku ingin membangun dunia.
Semesta bagi rindu untuk bermukim,
memekarkan cinta di sepanjang musim.

 

— Sesekali aku ingin melihat air matamu luruh dengan tiba-tiba,
saat melihatku membisikkan adzan di telinga bayi kita,
misalnya.

 

— Rindu adalah penyakit masyarakat;
sebab tak jarang membuat resah lingkungan terdekat.

 

— Di ujung jalanan yang bersimpang,
kumohonkan keteguhan hati padaMu,
sebelum kaki terlanjur melangkah;
tapaki pilihan yang salah.

 

— Saat aku diam tak menyapa,
bukan berarti sengaja atau terlupa;
aku hanya ingin mendengar rindu terucap dari bibirmu.

 

— Rindu ini menguras dompetku;
belanjakan rupiah untuk mendengar suaramu,
atau sekadar mengirim pesan singkat untukmu.


— I am with you in your heart;
a miraculous place.
Don’t take me away to where the murky,
clumsy time flows on reality’s surface.

 

— Kau mati muda dalam kenanganku,
layaknya syuhada;
kau akan kukenang dan kusebut dalam tiap do’a.

 

— How can I tell you about the past,
when I’m still in the present with you?
I just can’t believe we’re through.

 

— Didn’t you know;
no one on this earth love you like I do.

 

— In the end,
our love will choose his own destiny;
together or separately.

 

— Sekian lama,
kita merajut cinta , di dalam dusta.

 

— Ada hal yang tak dimengerti;
bukan karena dangkalnya pemahaman,
melainkan isyarat agar kita saling menerka dan menduga.

 

— Pada akhirnya,
semua akan menjadi biasa.
Kau bahagia bersamanya,
dan aku merawat luka yang kau tinggalkan begitu saja.

 

— Cinta berilah aku waktu hidup,
rinduku masih terlalu kanak-kanak untuk mati meninggalkannya.

 

— Puisiku,
adalah taman bermain bagi rindu tak bertuan,
saling merangkai kata,
yang mungkin mereka sendiri tak paham sejatinya.

 

— Serupa atheis; tak menemukan jalan Tuhan,
cintaku kini tersesat di pengembaraan;
mencari agama yang mereka namakan cinta.

 

— Berbotol-botol bir ini belum juga selamatkanku dari rindu,
mungkin memang sepasang mata air dari dadamu yang kuperlu kini.

 

— Sebab puisi adalah takdir kenanganku,
maka biarkan kekal di sana.
Kelak,
ia yg akan membacakan aku buat engkau.

 

— Seperti biasa,
dua cangkir teh hangat kala senja,
untukku dan bayanganmu; merayakan kenangan.

 

— Kaulah sejatinya pujangga; ibu dari anak-anak kata,
rawat mereka di rumah-rumah puisi,
berjaga hingga kelak senja menutup hidup.

 

— Dialah kenangan, menyala dalam kegelapan,
tapi sirna di kemilauan cinta.
Dialah kamu, yang berlalu terhanyut waktu.

 

— Mungkin rinduku perlu operasi plastik,
biar rupanya bisa menjelma cantik;
agar membuatmu tertarik,
meski hanya sekadar melirik.

 

— Kutitip puisi pada semilir angin pagi,
semoga kau dengar,
dalam bisiknya saat menyelinap di sela jendela.

 

— Dalam puisi aku sediakan kau tempat;
yang bahkan lebih lapang dari dunia,
luas tak berbatas serupa langit.

 

— Sebuah perjamuan tergelar senja itu untuk dua perayaan;
cintanya menikahi wanitaku,
dan sepi menyetubuhiku setelah ia berlalu.

 

— Wanita, kau bukan bagian dari kata itu.
Kau istimewa; membaca puisimu,
seolah mengenali setiap sel yang membentuk dirimu.

 

— Aku memimpikan sebuah ciuman yang liar,
saat lidah kita saling bertamu,
menyampaikan rindu yang telah lama terpinggirkan.

 

— Pergilah cinta,
akan kukenangkan kau dalam ingatan,
dan mengekalkannya dalam do’a.

 

— Selalu kuselipkan pinta dalam do’a,
serta do’a di bait puisi.
Itulah caraku menabahkan hati,
setelah kau patahkan berulang kali.

 

— Entah kapan aku dapat menafsirkan,
sesuatu yang hendak diberitakan oleh angin;
menumbuhkan atau meniadakan kenangan.

 

— Kita tak lebih dari lembaran kertas polos,
bergantian ditulisi takdir,
bercerita tentang luka dan kebahagiaan.

 

— Kepercayaan ialah caraku memerdekakan cinta,
tumbuh dan berkembanglah,
di sepanjang musim yang kau suka.

 

— Lelaplah sunyi dalam senyap,
bersama sepi meneriakkan hening.

 

— Bukanlah takdir yang memisahkan cinta,
tapi kebahagiaan kitalah yang memilih jalannya masing-masing.

 

— Kita adalah kenangan,
aku yang menyediakan ruang,
dan kau angan yang menjadi penghuninya.

 

— Pagi ini ku kenangkan lagi,
waktu yang dulu kita lalui bersama,
sembari menghitung kelopak rindu yang berguguran.

 

— Setelah kau pergi,
tiada yang berubah.
Kecuali bunga yang kau tanami dulu,
layu tiap kali melihatku murung karenamu.

 

— Aku selalu menantikan puisi-puisimu,
meski mereka bukan untukku.
Setidaknya aku tahu,
bagaimana caramu merindu.

 

— Setelah kamu,
hanya bayanganmu yang berani bertandang ke ingatanku,
menggigil di depan jendelanya.

 

— Sesungguhnya cinta tak pernah mengenal kata akhir.
Karena baginya,
semua adalah awal dari berbagai kebaikan.

 

— Dalam tiap puisiku,
kau adalah jantung yang mendenyutkan arti;
dari sekumpulan aksara mati.

 

— Selamat malam cinta.
Mimpi indahlah,
karena semua mimpi buruk telah kuangkuti;
tuk ku nikmati sendiri.

 

— Puisi ialah samudera kata,
muara dari aksara yang belum sempat terbahasakan.

 

— Pada air mata yang berguguran,
kita bisa berkenalan dengan ketulusan yang bening tak berwarna.

 

— Kelak akan diberkati cinta,
jika ia tak lagi saling bersengketa dan menghujamkan luka,
namun meronakan warna warni kehidupan.

 

— Aku mencintaimu,
dengan segenap asa yang tak terbilang,
lewat puisi yang tak tertuliskan.

 

— Aku belajar pada air mata,
yang tetap setia menyambangi,
pada tiap tangisan luka dan haru bahagia.

 

— Pada akhir cerita,
kita hanyalah sepasang terdakwa menunggu vonis dari sang Pencipta;
mempersatukan atau memberaikan.

 

— Beranda yang berdebu,
namun ada sepasang jejak kaki di situ,
milik bayanganmu, yang tak bosan berkunjung ke ruang rindu.

 

— Beranda kenangan,
tempat ternyaman yang kupunya,
untuk menerima kau bertamu, meski hanya lewat bayangan semu.

 

— Tiada kasih yang lebih perih,
daripada kisah hati yang patah.

 

— Tepian parangritis,
menantikan kereta kencanamu pulang bersauh,
bawakan penawar rindu dari sitinggil keratonmu.

 

— Berilah aku ketabahan ya Tuhan,
untuk temukan rahmat-Mu yang kau namakan perempuan.

 

— Sayang, kesetiaan itu bukan sebuah ujian,
tapi benih kebahagiaan yang kelak berbuah manis,
kelak kau temukan di mata anak-anak kita.

 

— Tak kan meluruh satupun bunga di hatiku,
selain atas seizinmu sayangku.

 

— Setelah kamu,
tiada lagi yang mampu mendamaikan aku dan takdir.
Menggugat pada tiap kemalangan yang mampir.

 

— Apa kau tahu,
aku kesulitan mendamaikan kau dan kenangan,
biar mereka tak saling menyakiti.

 

— Aku bercermin pada waktu,
bukan cinta yang menorehkan pilu,
tapi hasrat yang terlalu.

 

— Tuhan ingin aku memberikan hati ini untukmu seorang.
Sebab itulah Dia menciptakannya satu,
bukan sepasang.

 

— Sepasang mata ini dapat melihat banyak gadis,
tangan ini bisa menjamahi.
Tapi satu hati ini hanya untukmu,
tak dapat dibagi.

 

— Seperti biasa,
kugandeng kenanganmu, duduk di bangku taman,
menantikan langit senja,
sekadar penawar rindu.

 

— Bayanganmu kekasih,
selalu menodongkan senjatanya pada tiap cinta yang berani menyapaku.

 

— Rindu ini anak panah yang dilepas dari busurnya.
Kelak nanti,
ia akan menghunjam jantungmu.

 

— Mungkin kau tak melihat,
rerumputan,
sebagaimana juga hatiku, yang merunduk,
saat kau melangkah pergi.

 

— 1 April 2011.
Selamat ulang tahun hati yang patah.

 

— Senja pertama di bulan April.
Tiada yang berubah,
bayanganmu selalu terlukis di sana.

 

— Tiap kedatangan April,
pucuk rinduku berguguran,
terenggut kenangan yang merekah.

 

— Sayang,
di matamu ada jendela masa depanku.

 

— Jika kau tak sanggup lagi berkata,
membisu lah cinta,
biarkan aku menjamahmu segenap rasa,
hingga waktu membangunkan kita.

 

— Aku lebih suka teriakmu menghardik,
daripada bisu yang membuat ragu.

 

— Jika boleh,
aku ingin menukar semua kesedihan,
dengan kematian dan satu tempat di tanah pekuburan.

 

— Sajak ini adalah rindu,
pucuk dari sunyi,
mahkota dari resah.

 

 

 

 

 

 

taken from : fave @benjalang on twitter

Advertisements
Comments
6 Responses to “Sajak Pendek”
  1. Tita_jodie says:

    permisi…. numpang membaca puisi…

  2. benjalang says:

    Silahkan, semoga betah 🙂

  3. agung priyatno says:

    indah….

  4. Sapu Jagad says:

    permisi numpang baca dan skalian izin share ea

  5. hendri py says:

    bagus-bagus..
    jangan lupa mampir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: