Menunggu Berlalu

kepada seseorang yang sedang menunggu, sedari pagi di kotaku hujan turun dengan derasnya sesekali datang angin dan berulangkali dingin selalu ada kamu pada keduanya sebagai derap angan dan juga harap ingin dari beranda terlihat halaman mulai tergenang kusesap lagi segelas kopi yang ibu seduhkan manisnya tentangmu pelan-pelan terkenang serta beberapa cemas yang rindu bubuhkan selang … Continue reading

Teruntuk Wanita Yang Paling Memikat

Dear Raisa… Saya awali surat ini dengan sebuah ucapan selamat, kepada kamu karena  terpilih menjadi ‘Wanita Paling Memikat’ dari Infotainment Award 2014. Selamat ya, Cinta! Semoga penghargaan ini, akan membuat kamu semakin bersemangat menghasilkan karya-karya indah selanjutnya. Serta percayalah;  saya masih, dan akan selalu mendukung segala cita, dan cinta kamu.  Cintaku, fighting! Walaupun begitu, kadang sekali … Continue reading

Sedia Cokelat Sebelum Hujan

Dear Cinta yang jauh… Saat ingin pergi membeli cemilan di warung sebelah, hujan tiba-tiba saja turun.Payungnya mana ya? Sudah dicari ke sana kemari, tapi tetap saja tidak ketemu. Padahal saya ingat persis; sebelum ini, selalu melihatnya dalam rak di sudut gudang, tidak sekalipun berpindah. Tapi kenapa sekarang tidak ada? Apa mungkin ibu memindahkannya tanpa sepengetahuan saya, atau seseorang … Continue reading

Malam Me(nu)nggu

Ngomong-ngomong, sekarang ini hari sabtu ya? Kabar-kabarnya sih; nanti itu bakal ada yang namanya malam minggu ya? Phew… Hehehe… Ngomong-ngomong (lagi nih), udah berapa kali malam minggu sih sejak kita berjauhan gini? Lama banget ya pastinya. Jadi kangen. Kangen sama pertengkaran kecil waktu mutusin film yang mau di tonton. Atau nentuin tempat makan malam setelahnya. … Continue reading

Kamu Jangan Nakal Ya

Hey, lebah madu 🙂 Kali ini, saya tidak akan menanyakan kabar mu. Bukan, bukan karena saya tidak ingin mengetahuinya. Hanya saja, saya sangat yakin kamu sedang sangat bahagia sekarang. Dari sini, saya bisa melihat dengan jelas kamu tersenyum. Sebuah senyum yang selalu saja bisa meluluhkan, dan mengundang untuk dirindukan. Benar begitu, bukan? Ah, sepertinya saya … Continue reading

Di Belakang Saya, Kamu.

Apa kabarnya, hey Kamu, mantan kekasih? Bagaimana keadaanmu sekarang ini? Masihkah sama seperti sebelumnya? Menyulam sesal dari rapuhnya ingatan silam? Semoga saja tidak. Sayapun tidak yakin. Sebab jujur, saya belum sepenuhnya bisa memahami; waktukah yang begitu tergesa meninggalkan saya, ataukah saya yang terlalu ceroboh mengabaikannya? Dan kamu, berada di bagian yang manakah kamu pada keduanya? … Continue reading

Saya Datang Kembali

Dan datang lagi sebuah kesempatan bagi saya untuk menuliskan surat kepadamu, Ne. Masihkah kamu mengingat saya? Seorang lelaki yang pernah menggugatmu bersama cemburunya? Sudah selang begitu lama rasanya, semenjak surat terakhir yang saya kirimkan. Selama ini, saya terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran sendiri; sembari memperhatikanmu di garis waktu. Acapkali, saya berkeinginan untuk menyapamu di sana. Namun … Continue reading

Karena Sebuah Lagu

Dear Lebah Madu. Tanpa sengaja, pagi ini dalam perjalanan dengan sebuah angkot, saya mendengar lagu yang punya banyak cerita menggelikan buat kita; Main Hati, oleh Andra and The Backbone. Apa kamu masih mengingat? Dulu saya pernah menyanyikan lagu tersebut pada kencan kita yang pertama? Ketika itu, kamu bertanya kenapa saya memilih lagu tersebut. Kamu berpikiran … Continue reading

Maninjau Dan Bayi Kecil

Dear, Lebah Madu. Libur long weekend ini, saya berada di Danau Maninjau. Berencana untuk melepaskan diri dari rutinitas yang melelahkan beberapa hari belakangan. Tapi semua tidak seperti yang direncanakan, di sini saya malah terjebak dalam rutinitas baru; merindukan kamu. Entah kamu masih mengingat atau tidak. Di tempat ini, pertama kali aku menciummu. Suatu sore, empat … Continue reading

Masih, Dan Terus Akan Masih

Dear, Lebah Madu. Kukirim kembali surat untukmu. Setelah beberapa hari aku tak menyapa. Bukan, bukan karena lupa, hanya sekadar menunggu kau mengirim surat terlebih dulu. Karena sesekali, aku ingin melihat kecemasanmu menunggu kabarku yang tak kunjung datang. Persis seperti dugaanku, harapan ini berujung sia-sia. Tak ada suratmu yang sampai padaku. Aku mengerti, kita bukan seperti … Continue reading