Mula

“Selamat!” Gadis itu menjulurkan tangan. “Untuk?” Tanyaku heran. “Kamu tidak ingin menjabatnya?” Kusambut tangannya. “Jadi?” Ia hanya diam. Memandangku lekat, membuatku salah tingkah. “Apa yang kamu lakukan?” “Seharusnya saya yang bertanya.” Matanya tajam menyelidik. Membuatku merasa bak seorang terdakwa di kursi pesakitan. “Aku tidak mengerti.” Ia mengeluarkan buku lalu menuliskan sesuatu entah menggambar. Aku tak … Continue reading

Tapi Tidak Untuk Cintaku

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” Ia melirikku, sambil merapikan gaun pengantinnya. “Tentunya aku sangat berbahagia. Pasti begitu kan? Liriknya kembali padaku yang sedari tadi tak berkedip memperhatikannya. “Kenapa diam saja? Apa aku begitu cantik dengan gaun ini, hingga membuatmu terpesona dan kehilangan kata-kata?” Perlahan ia mendekat, lalu sejurus mendaratkan bibirnya di bibirku. Tetiba saja, aku menjadi sangat … Continue reading

Cinta Segitiga

Diam-diam, aku membuntutinya. Langkah gadis itu kian cepat, tergesa-gesa. “Selingkuhannya pasti sudah menunggu!” Ia berbelok masuk ke dalam lift. Sial, tak mungkin aku mengikuti ke sana. Tak hilang akal, aku berlari menuju tangga. “Aku harus mendapatkannya!” Kemana dia. Aku kehilangan jejak. Kamar yang mana? Kususuri lorong remang hotel. Sambil mengingat-ingat pesan pendek yang kubaca di … Continue reading

Pertemuan Untuk Perpisahan

Ia masih cantik seperti dulu. Senyumnya yang dingin dan beku, membuatku terkenang pada pertemuan terakhir kami. Tak banyak yang kuingat dari kejadian beberapa bulan lalu. Selain rasa canggung dan keasingan. Bagaimana tidak, setelah lima tahun menjalin cinta, kami harus berpisah karena ia dijodohkan. Situasi yang sulit. Hingga akhirnya kami menyerah, lalu memutuskan untuk berpisah. “Kami … Continue reading

Bahagialah, Karena Aku Mencintaimu

Aku terus melempar senyum pada mereka yang hadir. Sesekali kulirik jam tangan, makin tak sabar rasanya menanti penghulu datang. Gadis itu tersenyum padaku. Ia begitu cantik dalam balutan gaun pengantinnya. Jantungku berdegup kencang. Aku merasa gugup, melebihi saat pertemuan pertama kami dulu. Sudah tiga tahun berlalu semenjak peristiwa itu. Di matanya kulihat kebahagiaan terpancar. Aku … Continue reading

Suatu Waktu Di Pantai Air Manis

Lautan biru terhampar luas di depan. Butiran pasir berkilau diterpa matahari senja. Serta semilir angin tak henti bertiup sejuk. Sungguh saat yang tepat untuk membunuh waktu. Di satu bibir pantai, sekumpulan bocah sedang membangun istana pasir. Tangan mereka bergerak cekatan. Berpacu dengan waktu, sebelum pasang tiba menghancurkannya. Ada pula sepasang kekasih bercengkrama di bawah pohon … Continue reading

Kubawa Pergi Cintamu

Kutemukan sebuah amplop biru, dengan namamu tertera di sana. Layaknya sebuah kejutan, kubuka perlahan-lahan. Seraya menerka, isi pesanmu. Selamat sore, Adrian. Jantungku berdegup kencang, tak biasanya kau menyebut namaku secara utuh. Melalui surat ini, akan kuberi jawaban atas pertanyaanmu tadi pagi. Perasaanku bercampur aduk, penantianku akan segera berakhir. Sekian banyak pertemuan dari dua tahun kebersamaan … Continue reading

Satu Hati, (mungkin) Untuk Dua Bidadari

Kuberanikan menatap gadis di depanku. Ia hanya diam membalas tatapanku. “Maafkan aku, sayang…” “Aku telah memaafkanmu?” jawabnya datar. Sungguh, bukan ini yang aku bayangkan. Aku lebih menyukai ia marah, menghardik, bahkan mencaciku untuk menumpahkan amarahnya. “Tapi…” “Sudahlah, anggap saja ini hadiah di hari perpisahan kita” cegatnya sebelum aku sempat menjelaskan. ***** “Aku harus pergi sekarang” … Continue reading

Aku Bukan Untukmu

Dua hari kemudian “Jadi kau tetap diam dan tidak mau memberi penjelasan?” Aku hanya diam, benar-benar tidak tahu harus mejawab pertanyaannya. “Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Terima kasih untuk semua perbuatanmu.” Gadis itu bergegas pergi. Hari itu “Maaf, aku tidak bisa menerimanya jadi istriku.” Sontak semua tamu yang hadir heran mendengar jawabanku. “Apa maksudmu, … Continue reading

Damailah Sayang

Tiga hari setelah kejadian itu. Kami kian dekat, tak ada lagi pertengkaran. Ia sangat tenang sekarang, senyum lebih sering menghiasi bibirnya. Sehari sebelum kejadian itu. “Dasar sinting! Pergi sana, urus saja pria-priamu yang hina itu!” Suaranya keras menghardik, setelah ia menemukan foto-foto mesraku bersama beberapa lelaki. “Maafkan, aku!” “Maaf? Makan saja maafmu! Kita selesai!” Ia … Continue reading