Satu Kata, Dua Kata, Tiga Kita

Aku sedang melangkah pada sisi jalanan yang tengah ramai dengan hilir-mudik kendaraan, di antara beragam orang yang lalu-lalang. Wajah mereka tak ubahnya layar televisi yang tengah menampilkan pentas drama di dalam kepalanya. Beberapa dari mereka terlihat murung, sepertinya nasib buruk menjadi pemeran utama drama hari ini. Langkah mereka yang tergesa, seolahย  menyiratkan hendak melarikan diri, tanpa tahu harus ke mana. Beberapa lagi nampak berjalan pelan. Senyum merekah dari bibirnya. Pastilah ia menyaksikan begitu banyak hal baik seharian ini. Ia tidak ingin segalanya cepat berakhir, dan masih ingin berlama-lama dengan bahagia yang sedang memeluki hatinya. Sementara beberapa lainnya terlihat menampilkan raut wajah kosong, atau mungkin memakai topeng bermerek diam. Berusaha menyembunyikan isi kepalanya. Sesekali mereka melirik sekeliling, diam-diam memperhatikan. Sebagaimana aku.

Kamu menjelma malam lengang. Dingin. Angin mengabarkan sisa hujan sore tadi. Aromanya yang lembab menyeruak hingga ke dalam kepala. Menyampaikan gigil kepada rindu yang terabaikan. Baginya hangat hanyalah tinggal harap, dan sepi kian erat mendekap. Ia mulai memejamkan mata, mencoba jatuh ke dalam lelap. Namun cemas selalu saja datang membawa kabar tentang seseorang. Mengetuk pikirannya yang dia kunci dengan keberpura-puraan dan ketidakpedulian. Sayup-sayup ia mencuri dengar, berita dari seseorang yang sedang ia nantikan. Tidak lain ialah kamu.

Kita sering menduga-duga akan masa depan. Mulai dari jika ke jika, sampai pada satu andai hingga andai lainnya. Tanpa pernah mengira, kejutan ternyata lebih sering mengambil alih jalan cerita. Tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi, bahkan satu detik setelah ini. Lagi-lagi kita hanya bisa mengharap, kepada detak takdir untuk mencukupkan usia dan menggenapi kesempatan. Kemana kita pergi, bukanlah perkara yang penting. Tapi kemana kita akan pulang, adalah muara dari segala pinta. Maka sebutlah kita, di dalam doa yang tak henti. Segala kejutan akan menjadi jalan, bagi semesta untuk berkonspirasi membawa kita pulang pada satu pelukan yang ditaqdimkan oleh cinta. Semoga seperti itulah kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: