Absen

Andai saja waktu bisa menunggu, dan kangen ini tidak terus-terusan mengganggu.

Pagi ini saya terbangun dengan kepala yang berat, bersama pikiran kusut yang sibuk memutar kembali mimpi semalam. Manusia memang hanya bisa berencana, dan nasib yang memutuskan siapa yang bakal bersua. Kamu tidak datang, meski namamu entah berapa banyaknya kupanggil dalam bisik sebelum lelap. Mungkinkah kamu bertamu ke mimpi lain, milik seseorang yang masih setia kamu peluk dalam pelan doa sebelum tertidur? Ah, saya cemburu.

Andai saja waktu bisa bersabar, dan kangen ini tidak melulu berdebar.

Siang yang mendung dan perut yang keroncongan. Sungguh tidak klop mereka berdua. Dengan langkah berat yang digelayuti malas, serta kangen yang menguntit, saya berjalan ke luar untuk mencari makanan. Langit kiat kelam, tidak lama lagi hujan sepertinya akan luruh. Saya harus bergegas, biar kangen ini tidak kehujanan. Jangan sampai dia terserang demam, sebab masih banyak cerita yang ingin saya gosipkan dengannya perihal kamu.

Andai saja waktu tidak pernah meninggalkan, dan kangen ini jangan sampai kamu menanggalkan.

Malam belum lagi larut. Namun dinginnya sudah memberikan gigil sedari senja. Saya seduh kopi gelas ke empat seharian ini, pekat dan kental. Namun terasa manis, setelah saya tambahkan senyum kamu dari dalam wallpaper ponsel. Ke dalam kotak pesan singkat, saya mencari-cari kamu. Tidak ada yang baru. Saya sesap kembali kopi ini, dan pelan-pelan mengecup ingatan tentangmu. Manis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: