Dan Begitulah

/1/

sebelum percakapan ini kita sudahi
ada sebuah hal yang ingin kuketahui

ujarnya
selepas kembali dari diam
dan sejenak mengehela nafas
sebelum melanjutkan

bagaimana bisa
memulai sesuatu
sedang kita telah mengetahui dengan pasti
apa yang akan terjadi pada akhirnya?

sebagaimana hidup
jawabku

bahkan pada hari kelahirannya
kematian telah dipersiapkan
pada suatu ketika yang entah
namun pasti
aku balik menghela nafas
dalam satu hisapan rokok yang berat

mula-mula sekali belajar bicara,
lalu kemudian membaca
dan dengan bersusah payah
terus mengakali segala perihal dunia
dan pelan-pelan mulai bermimpi
untuk memiliki
dan menaklukannya
demi hidup yang lebih baik sebelum mati

hening
dari ujung telepon
hanya kudengar isak yang tertahan
seperti sebuah jawaban

kali ini
biar aku yang menutup duluan
kataku menyudahi

 

/2/

dia memberiku sebuah senyuman
tidak ada yang istimewa
biasa-biasa saja

sebelumnya
aku pernah melihat yang lebih
ketimbang hari ini
bahkan gaun pengantin yang dikenakannya
kurasa jauh lebih indah
tidak sepadan
dengan kusut di wajahnya

aku pikir kamu tidak akan datang
katanya menghampiriku
lalu menjulurkan tangan

aku juga berpikir demikian
sepertinya kita memiliki persamaan sekarang
kujabat tangannya

akhirnya kita sampai juga di sini
aku menatap pelan sekeliling
ramai
penuh dengan suka cita

di sinikah akhirnya?
kamu baik-baik saja?

kuharap demikian
jawabku
sebab dulu kita melahirkannya
dengan bahagia
kurasa tidak adil
jika sekarang kita melepas
kepergiannya dengan berduka

akan tetapi
bukankah kematian selalu menyisakan duka?
ia menimpali

benar
dan itu adalah sebaik-baiknya kematian
kematian yang tidak henti berjuang
mempertahankan hidup
tidak sekalipun berniat untuk menyerah
meskipun maut ada di depannya

ia kembali memberiku
tatapan kosong
untuk kesekian kalinya

selamat
kamu harus
dan seharusnya berbahagia
seraya memberikan senyum
atas hari bahagianya

meski kamu tidak pernah jadi imamku,
akankah kamu mengingatku
pada tiap doa
di akhir shalatmu?

sebagai siapa
kamu ingin kudoakan?
tanyaku

ia diam
dan matanya yang basah berkaca
memberiku jawaban yang entah

aku pamit dulu
tanpa menunggu jawabannya
aku bergegas pergi

kamu pasti akan selalu kudoakan
aku membatin
di sepanjang jalan
meninggalkan kapel ini

 

/3/

pergilah dengan jauh
namun berjanjilah untuk tidak terjatuh

jangan pernah sekalipun berpikir untuk kembali
masa lalu adalah harga yang takkan sanggup kau beli

jikalau di perjalanan kamu bertemu dengan sesal
berpura-puralah tidak saling mengenal

sebab telah kau pilih jalan yang ingin kau hidupi
sisanya tentang kita biar aku yang hadapi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: