Last Pretence

Seseorang di sana.

Tubuhnya gemetar; menengadah kepada langit. Mengumpulkan sisa-sisa keangkuhan yang masih dimilikinya.

Tidakkah kau hendak menununjukan sedikit saja empati pada kemalanganku ini? Hah??

Lantang, hardiknya.

Dan bulan itu! Apa kau bermaksud mengejekku? Kau ingin semua penghuni bumi mengetahui perkara mendung di mataku ini??

Bintang-bintang berkedip silih berganti. Sepertinya mereka sedang bersusah payah untuk menahan tertawa. Berani-beraninya seorang pecundang; mengenakan hadiah kekalahannya, menantang pada langit tinggi serta karibnya.

Hei engkau angin malam yang termahsyur. Kenapa tidak kau bawakan saja sedikit buntalan awan ke sini. Aku ingin hujan. Sekarang!!

Kemudian ia jatuh. Bersujud pada bumi. Mungkinkah kali ini ia bermaksud mengadu pada bumi? Meminta sedikit iba atas gelisah yang menggemuruh dalam kepalanya.

Tolong aku!

Tetiba hujan meluruh. Cerlang bening bulirnya ditimpa bulan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: