Tak Sudah

Sampai kapankah, engkau akan menjadi ketegaran yang mengasihani dirinya sendiri? Atau menjadi kekuatan di atas gemetaran kaki-kakimu menapaki jalan-jalan takdir.

Kita sudah terbiasa menjadi orang lain; orang lain yang menolak memahami apa yang sebenarnya kita inginkan. Berpura-pura tak acuh, seolah tak peduli.

Kehidupan menjadi tokoh antagonis yang acapkali dipersalahkan. Bersama-sama dengan waktu, mereka menjadi momok menakutkan. Berapa banyak keluhan, bahkan umpatan tak terhitung kita lontarkan.

Lantas, pada akhirnya siapa yang sebenarnya akan kita percayai. Entahlah, atau mungkin kita takkan pernah selesai menemukan jawabannya, seperti coretan yang tak sudah ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: