Selamat Malam, Malam.

*
Ingatlah aku pada temaram padang langit yang mulai memudar,
surya merunduk santun di tirai kelambu cerlang bias memendar.

Kenanglah aku dalam hening senyap tanpa suara,
dingin membawakan gigil sebagai hadiah dari pemilik segala muara.

Lihatlah aku jauh ke dalam sudut di bilik hatimu,
akan kau temui aku yang merayakan sepi di semarak harimu.

*
Meski kini berwujud serpihan sisa-sisa,
namun tiada yang sia-sia.

Cinta telah memenjarakan bahagia dan duka,
sebagai karib di balik jeruji waktu yang enggan kau buka.

Belukar rindu silang menjerat,
aku bergeming tak ingin menjerit.

Apa sebenarnya yang dulu mati-matian kau tinggalkan,
andai aku tak benar-benar pernah kau tanggalkan.

Akulah masa lalu yang selalu kau hidupi,
dan masa depan yang tak pernah berani kau hadapi.

*
Aku merasa bulan terlampau genit malam ini,
sedari tadi dia tak berhenti melirikku di sini.

Aku menduga dia sedang mencemooh,
kepada aku yang memelihara rindu dalam bodoh.

Aku tak sedikit mempedulikan,
kau masih saja terlalu hebat untuk di abaikan

Aku masih sayang,
meski kau kini sekadar bayang.

*
Kemana redup yang perlahan pekat,
aku ingin berlindung di keluasannya yang tanpa sekat.

Angin menari-menari,
aku hilang yang mencari-cari.

Bersuka citalah wahai semesta raya,
aku mencoba bahagia memeluk cinta yang tak semestinya.

*
Pada akhirnya kehilangan tak pernah membebaskanku,
namun sebutir debu sesalpun kuharamkan membebankanmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: