Mula

“Selamat!”

Gadis itu menjulurkan tangan.

“Untuk?” Tanyaku heran.

“Kamu tidak ingin menjabatnya?” Kusambut tangannya. “Jadi?”

Ia hanya diam. Memandangku lekat, membuatku salah tingkah. “Apa yang kamu lakukan?”

“Seharusnya saya yang bertanya.” Matanya tajam menyelidik. Membuatku merasa bak seorang terdakwa di kursi pesakitan.

“Aku tidak mengerti.”

Ia mengeluarkan buku lalu menuliskan sesuatu entah menggambar. Aku tak berani mengintip.

“Kamu tidak ingin tahu apa yang saya tulis? Saya tak yakin kamu akan berani melihat ke dalam hati saya dan menemukan namamu di sana.”

“Maksudmu?”

“Selamat. Kamu membuat saya untuk menyatakan cinta terlebih dulu.”

Terima Kasih Surat Kalengnya. Tertulis di bukunya.

“Dia tahu!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: