Satu Hari Sebelum Masa Depan

Tiada satupun kebetulan dalam hidup. Semua sudah ada dalam skenario takdir. Dari surga, Tuhan menyutradarai setiap kejadian. Hal itulah yang selalu diyakini oleh Hanna — gadis muda yang tak sulit untuk saya temukan keberadaanya di kerumunan manusia ini. Ia sedang duduk di sebuah kursi, dekat pintu kedatangan dalam negeri. Matanya bergerak liar, menatap jam tangan, lalu menatap sekeliling, memastikan ia tidak melewatkan seseorang yang tengah ia tunggu.

Mengenakan kaos cerah merah jambu berlengan panjang, ia begitu mencolok di tengah para penumpang bandara tersibuk di negeri ini. Rambut panjangnya yang diikat ekor kuda, selalu bergoyang saat ia melirik ke kiri dan ke kanan. Ia mulai menggigit bibir, sepertinya gelisah sedang berkecamuk di dadanya. Saya melihat jarinya sibuk menari di atas komputer jinjingnya. Tak sabar, saya perlahan bergerak mendekatinya.

 

*****

 

“Sudah lama menunggu?”

“Cukup lama. Namun aku menikmati setiap detiknya. Bukankah ini terlalu singkat, dibanding waktu yang telah kita lalui bersama.” Hanna tersenyum begitu riang. Matanya penuh binar, seolah ia telah mengamit segala bintang yang selama ini menjadi karib bulan di langit tinggi.

“Benar juga. Nyaris dua tahun kita bersama. Berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Aku tidak menyangka pertemuan ini akan terjadi. Selama ini, kita hanya berbicara di telepon dan menyapa dengan senyum manis di messenger.”

Hanna menggeleng. “Karena itulah, aku bersikeras mengajakmu ke sini. Bukankah sedari awal sudah aku katakan, kelak pada suatu saat kita akan bertemu, jika takdir kita saling bersilang dan bertemu pada sebuah titik waktu.”

“Tentu aku ingat. Karena aku selalu mengingat apa-apa yang selalu kau katakan. Bahkan aku juga mengingat semua diammu karena aku terlambat menjawab telepon!”

“Hahaha. Jangan mengingat yang buruk tentangku. Sudah, mari kita cari tempat mengobrol yang santai. Jangan sampai kita menyia-nyiakan momen spesial ini. Pesawatmu kembali jam berapa?” Tanya Hanna sedikit melemah.

“Hmmm… Masih sekitar dua jam dari sekarang. Baik, tentu kamu tahu bagian terbaik di bandara ini untuk melunasi janji-janji kita yang terbengkalai.”

“Kamu mempercayai semua janji itu? Memang kamu berani?? Hah??” Hanna melirik centil.

 

*****

 

Hanna memilih tempat duduk paling sudut dari coffe shop bandara. Tidak seperti di luar, ruangan ini jauh lebih bersahabat. Tidak terlalu sesak pengunjung, dan ada pendingin ruangan.

Ya, pendingin ruangan. Saya benar-benar memerlukannya saat ini. Sebab sesuatu yang aneh tak henti-hentinya menjalari tubuh saya. Apalagi setiap melihat bola mata Hanna, hati ini berasa ingin lepas dari penampangnya.

Di satu sisi, saya begitu menginginkan pertemuan ini. Di sisi lainnya, hati saya terus mengumpati semua yang sedang terjadi. Seandainya waktu bisa diputar kembali, tentu cerita ini bakal lebih indah. Lamunan saya sirna, ketika ponsel Hanna berdering.

 

*****

 

“Aditya?”

“Bapak kamu peramal ya?” Canda Hanna.

“Bukankah kamu sering bilang; Adit memberimu perhatian yang lebih semenjak kalian bertunangan”

“Adit memang berubah banyak. Dia jadi lebih dari sebelumnya. Lebih perhatian, dan lebih mengerti aku. Tapi ini buakn dia kok. Kamu tidak cemburu kan? Hehehe”

“Apa aku diperbolehkan untuk cemburu?”

“Tentu saja. Kecuali kau tidak mencintaiku, seperti aku mencintaimu.”

 

*****

 

Jantung saya benar-benar ingin berhenti rasanya. Mendengar yang baru saja Hanna katakan. Oh cinta. Mengapa kau datang. Mengapa kau menjadikan posisi saya semakin sulit. Kembali saya memperhatikan Hanna dengan lekat. Memastikan apa yang dikatakannya adalah benar adanya. Saya lihat ia hanya tersenyum. Namun tatapan matanya sedikit berbeda sekarang, seperti ada sesuatu yang berusaha ia pendamkan. Ia berusaha tetap senyum dan mulai membicarakan hal-hal lain. Tapi itu tidak cukup untuk menutupi perasaannya. Apa yang sebenarnya ingin ia lakukan sekarang. Tentang cinta, cinta yang serupa apa?

 

*****

 

“Apa yang kamu pikirkan?” Tetiba Hanna memberondongkan pertanyaan.

“Bukan apa-apa. Aku hanya merasa sedikit canggung sekarang.”

“Canggung? Canggung karena kamu sedang berkencan dengan seorang wanita yang akan menikah besok ya?”

“Sudah, jangan menyudutkanku, Na.”

“Kenapa anda menjadi kaku seperti ini, Tuan. Ini tidak seperti kamu yang biasanya. Seingatku, kamu tidak pernah ingin kalah setiap kita berdebat. Bahkan kamu sering mengeluarkan alasan konyol untuk membuatku lupa dengan pikiranku yang serius. Ayolah…” Suaranya memelas.

“Ini bukan saat yang tepat, Na. Bukankah kita bertemu hari ini tidak untuk membahas semua tentang perasaan?”

“Aku mengerti. Baiklah. Kalau begitu, tatap mataku. Ucapkan selamat untukku, dan katakan kau akan mendoakan kebahagiaan untukku?”

“Na… Cukup.”

“Kenapa? Bukankah itu tidak terlalu sulit bagimu. Kau sudah terbiasa merangkaikan kata-kata manis. Pasti mudah bagimu.”

“Na…”

“Sebentar. Aku belum selesai.” Hana menyela. “Kau ingat, betapa aku sangat rapuh ketika menghadapi situasi yang sulit bersama Adit. Tiba-tiba kau datang dengan segala kekonyolanmu. Kamu membuatku jadi terbiasa denganmu. Kau bukan hanya singgah di hatiku. Kau menetap di sana. Tapi sekalipun kau tidak ingin memperjuangkannya.”

“Kita sudah pernah membahasnya kan, Na?”

“Tolong. Tolong biarkan aku bicara kali ini. Aku benar-benar hilang arah. Aku tidak mengerti apa yang harus kutuju. Bahkan aku dengan patuhnya mengikuti nasehatmu untuk kembali pada Adit, bahkan untuk menerima lamarannya. Aku tidak kenal dengan diriku sendiri, aku merasakan kamu, aku mencintaimu.”

 

*****

 

Saya semakin tidak mengerti. Situasi ini makin menggila saja. Saya lihat mata Hanna mulai sembab. Air matanya meluruh. Sungguh saya ingin memeluk dan menenangkannya. Tapi bagaimana mungkin. Situasi ini terlalu sulit. Saya hanya bisa memendam perasaan. Saya ingin marah. Tapi tidak tahu, siapa yang harus dipersalahkan dalam hal ini. Hanna menunduk, berusaha meredakan nafasnya yang tersenggal menahan isak. Saya tidak tahan melihat ia seperti ini. Saya terenyuh melihat ia dilingkupi kerapuhan. Tapi saya memang tidak tahu harus melakukan apapun.

 

*****

 

“Na. Tidakkah kamu merasakan, apa yang sedang kurasakan sekarang? Tidakkah kamu membaca sesuatu yang tidak bisa aku utarakan?”

“Aku tahu dengan persis. Inilah yang membuatku geram. Kau terlalu lemah dengan perasaanmu. Bahkan saat kita bertemu sekarang, kau tidak berani menatapku. Kau hanya melihat dengan mencurinya. Apa aku begitu murah untuk kau perjuangkan?”

“Jangan lari kemana-mana, Na. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Lantas apa yang kau maksud dengan yang tidak seperti aku pikirkan. Tolong jelaskan.”

“Na…”

“Kamu takut. Ayolah Tuan. Setidaknya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Aku ingin tahu perasaanmu.”

 

*****

 

Oh tuhan. Apa yang harus saya lakukan. Saya sangat mencintainya. Tapi sekarang, ada sesorang lain di antara kami. Apa akhir yang ingin kau citrakan Tuhan. Kemana kau hendak membawa kami dari persinggahan ini. Kemana tujuannya Tuhan. Apakah kebahagiaan yang engkau janjikan terlalu jauh untuk kami jalani bersama. Hingga lelah berhasil memperdaya Hanna dan menemukan tempat persinggahan yang baru dari gerilya perasaannya?

 

*****

 

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena aku mencintaimu.”

“Cinta? Apa seperti ini caramu mencintaiku? Dengan membiarkanku menikah dengan orang lain? Oh tidak tidak. Bukan membiarkan, kau malah menyuruhku untuk menikah dengan Adit. Cinta seperti apa ini?”

“Kau pernah bilang. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Semua yang terjadi adalah sesuai alur skenario dari tuhan, dan takdir membawa kita pada setiap babaknya.”

“Ya. Aku ingat. Lantas?”

“Aku menganggap apa yang terjadi dengan kita, dengan perasaan kita pun demikian. Ada rencana yang disiapkan tuhan. Dan aku tidak bisa menduganya. Aku pun merasa nyaman setiap bersamamu. Mendengar suaramu, mendengar ceritamu, bahkan mendengar keluhan tentang hubunganmu bersama Adit.”

“Aku masih tidak mengerti.” Celetuk Hanna.

“Aku beranggapan, semua yang terjadi antara kita hanyalah sebagai kisah yang sementara singgah lalu kemudian pergi dan memberi rasa yang berbeda. Hingga pada nantinya kamu akan merasakan, semua yang terjadi hanyalah sebagian dari dinamika hidup.”

“Bisa kau menyederhanakan semuanya Tuan?”

“Lihat pesawat itu. Mungkin kau pernah merasa bosan dengan tempatmu. Lalu kau ingin pergi jauh ke sebuah tempat baru untuk menemukan hal baru. Pesawat itu akan mengantarmu ke sana. Beberapa saat, kau mungkin merasa begitu bahagia. Kau berhasil menghindar dari jerat rutinitasmu. Tapi kelak di saat yang berlainan, kau akan rindu pada asalmu, kemudian kembali mengejar pesawat itu dan meminta untuk diantarkan pulang.”

“Jadi apa inti dari semua ini. Apa sebenarnya yang ingin kau jelaskan dari cerita pesawat itu?”

“Pulanglah ke hati yang menjadi rumahmu. Begitupun aku. Aku akan kembali kepada dunia yang memiliki kehidupanku. Kelak pada masanya, jika kebahagianmu adalah jalan masa depanku, kita akan bertemu kembali. Mungkin dalam sebuah perjalanan yang panjang atau sekadar singgah di sebuah bandara. Pada saat itu, aku akan memberimu senyum yang terbaik dan mengingat kau pernah ada sebagai seorang yang menolak untuk aku lupakan.”

“Aku sangat kecewa padamu. Namun semua memang terlalu berat untuk kita. Sejujurnya aku berharap kau akan membawaku pergi bersamamu.”

“Jangan bodoh, Na. Jika aku ingin memilikimu, akan kuminta engkau secara jantan pada orang tuamu.”

 

*****

 

Apa sesungghhnya yang diinginkan gadis ini. Ia membuat pemikiran yang sangat sulit untuk dimengerti. Bukankah esok dia akan menikah. Lalu mengapa hari ini ia masih berusaha memberi ruang pada cinta yang lain. Saya benar-benar tidak mengerti. Yang pasti saya mencintainya, dan saya harus mengatakan semua kepadanya.

“Han…”

Terperanjat ia melihat kehadiranku. “Adit. Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Saya sudah mendengar semuanya. Sekarang semua saya serahkan padamu. Sama sepertinya, jika kamu adalah jalan masa depan bahagiaku, maka datanglah besok. Saya akan menunggumu, dan melupakan semua yang terjadi hari ini. Jika tidak, pergilah. Tidak ada tekanan apapun.”

“Maafkan aku, Mas.” Pria itu menyapa dengan raut muka kaget dan bersalah.

“Tidak apa, teman. Saya malah berterima kasih. Saya mendapati perubahan yang sangat besar dari diri Hanna. Itu yang membuat saya ikut berubah dan menjadi lebih mencintainya. Sekarang saya tahu mengapa ia bisa begitu, dan kamu adalah sebabnya. Tenanglah, saya tidak akan menggugat apapun. Saya permisi.”

Bergegas saya pergi meninggalkan mereka. Melangkahkan kaki dengan cepat menyibak kerumunan penumpang. Saya ingin segera pergi dari tempat ini. Saya tidak ingin melihat mereka. Saya benci mereka. Saya marah pada diri sendiri yang berkata pasrah di depan mereka. Saya benci. Terkutuklah mereka yang mempermainkan cinta.

 

*****

 

“Lama tidak berjumpa semenjak hari itu.”

“Sudah lama sekali.”

“Sehat?”

“Seperti yang kamu lihat. Oh iya, aku belum tahu namamu?”

“Panggil aku jalang.”

Kami pun tersenyum. Saling mengenang semua yang telah terjadi. Kami mendapatkan bahagian kehilangan.

“Jika aku membawanya pergi.”

“Andai saya tidak memasrahkannya.”

Di bandara ini, satu tahun yang lalu. Terakhir kami melihatnya. Ia memutuskan pergi dan menutup semua cerita dengan usianya. Pada sebuah perjalanan untuk lari dari kenyataan. Maut menyelamatkannya bersama pesawat itu.

Sedang bersama yang manakah kini, ia membagi cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: