Selamat Ulang Tahun, Ketiadaan.

Maafkan, saya belum sempat menyiapkan doa-doa yang baik, sebagai pengiring ucapan selamat ulang tahun untuk kita; ketiadaan. Waktu masih saja mengajakku bersekutu untuk mempersengketakan, kamu. Saya pun selalu terbujuk tipu daya darinya, dan acapkali mengumpat pada keberadaan yang malang sendirian.

Sudah beberapa tahun, entah berapa banyak kejadian yang silih berganti memberi cerita akan suka duka. Saya bukannya tak pernah tertawa, namun tangis lebih sering pecah ke dalam hati yang rapuh selepas kamu tak lagi di sana.

Hari ini, pada sekian tahun yang silam. Saya memulai kekonyolan, dan sekarang menerima ganjaran yang jauh lebih konyol. Sepatah sapa tak mesra, seikat kata tak memikat; saya hadiahkan kepada kamu, sebagai lamaran untuk menjadi bagian diri saya. Sebuah anggukan menjurus ragu, kamu berikan sebagai jawaban atas pernyataan itu.

Sungguh, saya tidak pernah membayangkan itu bakal terjadi, dan lebih tidak membayangkan, semuanya menjadi sesuatu yang paling saya sesali sekarang ini. Bukan, bukan sebuah penghakiman atas kesalahan ataupun dosa tak terampuni. Saya hanya menyesali, lengan saya terlalu lemah untuk memeluk kamu, dan menjaga dari kuku waktu yang menerkam keberadaan kamu; ketiadaan kita.

Lantas, siapa yang harus dipersalahkan? Ah, jangankan sebuah jawaban, untuk menanyakan hal itu saja telah membuat saya bergidik. Saya, kamu, dan segala yang sempat menjadikan kita — kerendahan hati, pun keangkuhan yang tak pernah menghisab diri.

Namun, semua kembali pada zat yang telah mendermakan beberapa kebaikan hati, dan masih memberi saya keberadaan, di sisi ketiadaan. Saya tak ingin menjadi durhaka, dengan melaknati semua yang sudah mengakhirkan kita.

Khusus teruntuk kamu; elemen yang pernah bersama saya mensenyawakan kita, saya memintakan maaf dengan sangat. Ada beberapa kesalahan yang mudah untuk dimaafkan, tetapi terlalu berat untuk dilupakan.

Bersenang-senanglah dengan segala pujian dan begitu banyak doa kebaikan dari mereka-mereka yang bertepuk tangan melihat kita melepas kebersamaan. Saya menyadari dengan pasti; kehilangan yang kamu kembalikan pada saya, terasa lebih nyeri dari sebelumnya.

Terima kasih, saya ucapkan. Tanpa doa, saya pikir kamu akan lebih menyenanginya. Matilah kamu, hiduplah dalam setiap emosi jiwa yang merasuki saya di tiap kehadiran Juni. Tak perlu takut, saya sedang mengincarmu dengan lembut. Biar kamu rasakan sendiri, kunci-kunci ketiadaan tanpa lobang-lobang keberadaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: