Saya Memeluk Kamu Di Tengah Hujan

Saya sedang terjebak di sebuah halte ketika menulis ini. Hujan turun dengan derasnya sedari sore. Bis yang biasa saya tumpangi tak banyak yang beroperasi. Sudah hampir dua jam saya menunggu, dan tak satupun bis yang berhenti karena sudah penuh sesak oleh penumpang.

Tidak seperti biasanya, saya yang pembosan malah menikmati penantian ini. Saya sibuk memperhatikan lalu lalang kendaraan, serta orang yang hilir mudik menembus hujan. Sampai akhirnya saya menemukan kamu; bayang-bayang di sela hujan.

Kamu membawa saya kembali pada semua peristiwa yang terjadi pada tiap-tiap hujan turun, dan menjadi pihak ketiga di antara kita. Kamu selalu menyenanginya, bertolak belakang dengan saya yang selalu mengumpat tiapkali hujan turun.

“Senyumlah. Bukankah hujan ini mendekatkan kita?” Katamu. Saya selalu tertawa mengejek ketika mendengarnya. “Kamu benar. Tapi hujan juga yang membuatku tersiksa karena harus menahan diri untuk tidak memelukmu di tengah keramaian.” Jawabku seperti biasa.

Seperti yang sudah-sudah, kamu selalu mencibir ketika saya menjawab dengan hal yang sama. “Pelukan? Kalau begitu, mulailah sekarang belajar untuk berteman dengan hujan. Mungkin kelak, hanya padanya kamu bisa memelukku.” Katamu, di suatu hujan terakhir kita. Pada sebuah emperan kaki lima, beberapa hari sebelum kepergianmu. Saya tidak benar-benar menanggapinya kala itu.

Setelah saya menyelesaikan tulisan ini, saya akan bangkit dan berjalan menembus rintik hujan. Saya ingin basah sejadi-jadinya. Kamu, saya ingin memeluk dan merasai kamu. Titipkan rasamu, pada hujan yang sebentar lagi akan saya sisipi.

Saya menagih janji kamu, dan saya tidak akan mengumpat pada hujan yang telah menahan saya berjam-jam di sini. Peluklah saya, berikan hangat melalui dingin hujan ini. Saya akan tersenyum menerima setiap bulirnya di tubuh. Namun berjanjilah untuk saya, ini bukan air matamu yang meluruh dari surga, sebab kini kamu tak lagi bisa memeluk saya.

Mungkin ini jauh dari cukup, untuk meniadakan rindu. Namun, saya menganggap ini sebagai jalan untuk membuat pelukan kita menjadi jauh lebih hangat, kelak pada perjumpaan di waktu yang baik. Baik-baiklah kamu di sana, saya sudah tak sabar memeluk kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: