Kehilangan Mempertanyakanku

Tiba-tiba saja kehilangan mendatangiku. Wajahnya membiru penuh lebam. “Berapa sesal yang kau perlukan untuk menebus kelalimanku?” isaknya.

Kupersilakan ia masuk, dan mengajaknya rebah di pembaringan. “Pikiran apa yang membawamu kemari?” tanyaku ragu-ragu, tanpa menoleh padanya.

Ia menjawab dengan tangis yang kian menjadi-jadi. “Aku ingat, kali terakhir kau menangis di depanku.” “Kapankah itu?” selanya menyambar.

“Ketika aku menolak untuk menahanmu pergi.” Kemudian semua ingatan buruk memanggilku untuk dibaca kembali. “Pikiran itulah, yang membawaku.”

Lidahku kelu. Tak satupun kata mampu tersuarakan. “Sudah. Aku menyesal karena mengikuti jalanmu. Jalan bersimpang tak bersisian.”

Ia menarik nafas dalam-dalam. “Semua telah sesuai dengan kehendak pemilik ketetapan. Biarlah akan menjadi serupa entah yang mana.”

Ia makin lemah. Kantuk ataukah maut yang membebani matanya. “Sebelum mati, berkenankah kau memelukku? Satu kali.” Gugur sudah keakuanku.

Kupeluk ia dengan erat. Tak kupedulikan lagi jejarum waktu yang menancap kian dalam di tubuhku. “Tidurlah. Aku akan menjagamu.”

“Aku mempercayaimu.” Tersenyum, ia memandangku. Kurasakan tubuhnya kian dingin, makin beku. “Abadikan aku, dalam pikiranmu.” Pintanya.

Takdir mengabulkan. Dibawakannya kehilangan itu, sebagai pemilik hatiku yang tak bertuan. “Damailah, oh damailah. Matimu untuk hidupku.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: