Untuk Seseorang Yang Pernah Bersama Saya Menyanyikan Lagu Ini

Mencintaimu, selama ku bernafas. Seindah cahaya pagi, terangi hidupku…

Di sebuah pagi, jauh pengembaraan saya berakhir di kota kamu. Masih subuh, kala itu. Dirimu pun masih terlelap, setelah menemani saya lewat pesan singkat, di perjalanan kereta api sepanjang malam. Suaramu yang saya dengar dari telepon genggam, seperti biasanya, sebentar lagi akan saya jumpai paras pemiliknya. Di sini, di stasiun kota kamu, saya menunggu kedatanganmu.

Memilikimu, akupun percaya. Kasih yang telah kau beri. Membuka mataku…

Pagi saya tetiba ungu. Saya ingat, kamu mengenakan pakaian dan jilbab ungu saat itu. Tersenyum ragu dan canggung, mengenali saya. Kita saling memandang. Entah apa yang ada di pikiran kamu. Sedang saya, masih belum mempercayai pertemuan ini nyata. Ada banyak kejanggalan dalam kejadian sebelumnya. Pasang surut dan pertentangan. Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk berkunjung ke kota yang selalu kamu banggakan.

♬Dan tuk pertama kali kusadar kau cintaku…♪

Ada yang mendebar aneh dalam dada. Sesuatu yang pernah saya rasa, namun hilang begitu lama. Kini menggeliat kembali. Ah cinta, aku rasa itu kamu.

Ku takkan bisa, melakukan semua, tanpa dirimu di sisiku. Kau yang menggenggam hatiku. Takkan sanggup melewati waktu tanpamu. Karna hanya dirimu yang mengerti…

Seperti halnya tidak pernah memberitakan perihal kedatangan, cintapun pergi kerap menghilang tanpa sebuah permisi. Saat ini, saya tersenyum mengingat kembali pertemuan kita yang pertama. Mengenang semua yang kita jalani bersama, meski singkat dan tak banyak waktu. Ada banyak hal indah yang kamu jejakkan dalam ingatan. Lalu kamu pergi, mengambil pergi diri saya yang kamu lahirkan kembali dengan cinta. Kamu meninggalkan saya di masa lalu, membiarkan saya sendirian menyusuri jalanan waktu. Masih adakah yang kamu ingat tentang saya, adakah sebanyak ingatan saya yang menolak untuk melupakan semua tentang kamu.

Peluk diriku, hapuskan luka. Ku tak pernah berubah, karena ku memilihmu…

Dari sekian banyak cara kamu menenangkan saya, pelukanmu adalah hal yang paling ajaib. Kamu benar-benar mengerti, cara terbaik untuk mendamaikan resah saya. Pada siapa kini kamu memberi pelukan? Mungkinkah seseorang baru telah memberimu dada yang lebih lapang untuk bersandar. Namun apapun yang sedang kamu jalani sekarang, apapun yang mencerahkan hati dan harimu; saya masih di sini, dengan perasaan yang tidak pernah berubah. Hati saya yang telah memilihmu, tidak menyesali takdir yang menghujaminya dengan luka. Saya bahagia memikirkanmu. Saya bahagia merindukanmu. Sesekali, mampir dan berkunjunglah. Sudah saya tanak remah-remah rindu untuk kita santap bersama, dan menghangatkan pelukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: