Untuk Seseorang Yang Menyuruh Saya Agar Lebih Sering Tersenyum

Saya bukan tipikal yang dapat ramah pada semua orang. Keluarga, dan teman-teman terdekat sudah berulang kali mengingatkan tentang kepribadiaan saya yang satu ini. Entah kenapa; setiap bertemu orang-orang baru, saya lebih sering diam dan tidak suka bicara terlalu banyak. Saya tidak ingin mereka mengetahui ‘siapa saya’ terlalu jauh. Biasanya saya hanya menunggu dan memperhatikan lawan bicara, lalu mencoba untuk menerka isi kepala mereka.

Curang, begitulah yang dia katakan pertama kali. Kami bertemu dalam sebuah acara organisasi di kampus. Tidak ada yang berarti terjadi saat itu. Kami sibuk dengan urusan masing-masing. Walau sejujurnya, saya kerap mencuri waktu untuk memandang matanya yang bulat itu.

Beberapa kali kami terlibat pertemuan, dan selalu tidak ada interaksi yang berarti. Hingga pada suatu hari, kami tidak sengaja bertemu di sebuah angkot. Saya lebih dulu ada di sana, dan bergegas memainkan telepon genggam ketika melihatnya menaiki angkot. Lucu, bahkan saya tidak tahu alasan kenapa saya begitu. Yang pasti, saya sangat tidak suka dianggap memperhatikan urusan orang lain.

Saya terus saja memainkan ponsel, sambil bernyanyi kecil mengikuti lagu yang diputar dari tape angkot. Curang! Kamu cuma memandangku sekilas, tanpa menunggu sedikit lama dan mengetahui apakah saya menyadarinya.

Gadis itu dengan santainya berbisik ke telinga saya. Maksudmu? Saya bertanya, berpura-pura heran. Wajar kamu bertanya, sebab kamu tidak pernah ingin tahu; apakah saya mengetahuinya.

Saya menggeleng, dan tersenyum. Kau jauh lebih menggoda, ketika tersenyum. Andai kau tersenyum saat memandangku, mungkin aku akan luluh. Kembali ia tersenyum, namun dengan lebih centil.

Jangan berlebihan, kamu mungkin salah menanggapi. Saya berusaha tetap ‘cool’ dan tidak ingin tampak salah tingkah. Terserah. Aku berani bertaruh, setelah ini kamu bakal lebih sering tersenyum.

Dia menang. Bahkan sampai saat ini; setelah kepergiannya. Saya selalu berusaha tersenyum, pada siapapun. Karena dia pernah berkata; uangmu mungkin tidak berarti sama bagi setiap orang, tapi senyum selalu diterima baik oleh siapapun.

Seperti yang dia katakan, senyumnya telah memberi banyak perubahan bagi saya. Meski kadang, ada banyak alasan yang membuat saya murung setiap mengingat tentang dia. Namun tidak mengenai hal ini. Kamu mungkin tidak melihat, tapi saya benar-benar tersenyum ketika menuliskan ini. Siapakah kini yang kamu ajarkan untuk lebih sering tersenyum?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: