Entah Kenapa, Sebagian Diri Saya Tidak Pernah Menyukai Hari Jumat

Semasa kanak-kanak, saya tidak menyukai hari jumat. Mama selalu menyuruh untuk pergi ke masjid, di tengah keasyikan saya bermain video game. Saya benar-benar enggan melakukannya. Tapi Ayah, selalu mengiming-imingi dengan janji untuk pergi bersama vespa-nya, lalu mampir ke toko untuk membeli kue-kue kesukaan saya. Cara itu selalu berhasil membuat saya bersemangat untuk pergi bersamanya.

Semasa remaja, saya juga tidak menyukai hari jumat. Dengan tubuh lelah dan mata mengantuk, rasanya kaki ini terasa begitu berat untuk melangkah ke masjid yang tak jauh dari kampus. Saya lebih sering tergiur dengan ajakan teman untuk nongkrong di kantin atau sekadar bermain kartu di kelas kosong. Tapi seseorang selalu menyuruh saya untuk ke masjid. Dia tidak seperti mama, yang menyuruh saya dengan cerewet, atau seperti ayah yang mengimingi dengan janji membelikan saya berbagai jajanan. Gadis itu hanya kerap menyindir, tanpa nyinyir. Kasihan calon anak kita, tidak menerima kiriman doa dari ayahnya di hari jumat yang penuh berkah ini. Kata-kata sakti itu selalu keluar dari mulutnya tiap saya terlihat enggan ke masjid. Dia tahu, dia telah memegang hati saya kala itu. Saya tidak pernah punya bantahan, dan selalu menuruti untuk pergi ke masjid.

Sekarang, saya masih saja tidak menyukai hari jumat. Pekerjaan seringkali menumpuk menjelang akhir pekan, rutinitas seringkali menjebak saya dalam tumpukan angka-angka yang mengerikan. Hingga berat sekali rasanya untuk beranjak sejenak. Saya lebih suka menghabiskan waktu istirahat untuk berselancar di dunia maya, atau sekadar berkicau di media social. Ayah telah tiada, beliau tidak bisa lagi menjanjikan apapun. Ia mungkin hanya bersedih, melihat saya masih kerap bermalas-malasan ke masjid. Begitupun dengan gadis itu, ia tidak lagi bisa menyindir saya. Seperti yang ia lakukan dulu. Ia telah pergi membawa calon anak kami, dalam tidur panjang di rumah tuhan, di surga.

Akan tetapi, saya tetap pergi ke masjid. Entah karena alasan apa, mungkin saya tidak ingin mereka di sana bersedih; orang-orang yang menyayangi saya. Setidaknya, setiap hari jumat, saya bisa menghidupkan mereka kembali dalam doa yang lebih panjang di selepas jumat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: