Ada Yang Bercerita Dalam Kepala Saya Di Senja Hari Ini.

Hari ini, saya merasakan senja begitu semarak. Seseorang bermain-main dalam kepala saya dengan gaduhnya; membuka laci-laci ingatan, mencari-cari catatan lama tentang diri saya. Dia berpindah dari satu laci ke laci lain, mungkin mencari catatan tentang dirinya. Mata saya menerawang jauh ke langit, menuju akhir batas pandangan. Berharap dengan sekejap akan dapat sampai ke sana. Meninggalkan dia yang sedang tersenyum; sebab telah menemukan apa yang dia cari.

Hari ini, saya merasakan senja begitu sesak. Sekumpulan bocah asyik bermain bola, tak jauh dari tempat saya duduk. Mereka berlarian, berteriak-teriak, namun ada pula yang mengaduh karena terjatuh. Tidak, aku tidak begitu jelas mendengar teriakan dan jeritan bocah-bocah itu. Suara yang begitu jelas masih berputar-putar di dalam kepala. Dia sedang membacakan riwayat dirinya. Sungguh, saya tidak ingin mendengarkan. Namun, dia membaca dengan nada yang begitu membuai, hingga saya terjebak dalam sesaknya pikiran saya sendiri. Ingin lari namun tak kuasa untuk pergi.

Hari ini, saya merasakan senja begitu retak. Sepasang suami istri melintas di depan saya. Si istri dengan penuh kesabaran menuntun suaminya berjalan di atas tongkatnya. Meski ia tampak kepayahan menyeret kakinya sendiri. Sejenak aku tertegun, namun disadarkan oleh suara yang kian nyaring di dalam kepala. Dia tengah membacakan rencana masa depan yang dulu kami tulis bersama. Tak ingin terlarut, mataku terus mengikuti langkah pasangan tadi. Mereka menghampiri bocah-bocah yang tengah bermain bola. Seorang bocah menghampiri, mencium tangan mereka. Itu pastilah cucu mereka. Aku bergumam sendiri. Bukankah kita juga pernah berencana akan menikmati masa tua seperti itu; berjalan-jalan di kala senja, duduk di taman seraya menemani cucu kita bermain. Tiba-tiba suara di kepala saya berhenti, hanya ada isak tangis yang samar.

Hari ini, saya merasakan senja begitu pelik. Langit bergegas menyambut malam, matahari pergi menghadiahkan kelam. Hening mulai menyelimuti. Keriuhan di taman ini pun berangsur hilang, orang-orang bersiap pulang. Dalam hening, suara tangisnya terdengar kian jelas. Aku tak tahu apa yang menyebabkan ia menangis. Apa karena saya mengacuhkannya. Atau mungkin karena ia menyesali dirinya yang tertulis dalam catatan saya. Entahlah, saya tak yakin. Sebab, dulu dengan penuh keyakinan, dia memilih jalan ceritanya sendiri, dan lalu meminta saya untuk menuliskannya dalam catatan ingatan saya. Menyesalkah dia? Atau saya yang mengharapkan dia menyesali?

Hari ini, saya merasakan senja begitu rusak. Gerimis meluruh, seolah langit bersedih melepas kepergian siang. Hujan segera tiba, saya berlari mencari tempat berteduh. Gemuruh bersahutan, serta suara derasnya hujan di atap pondok tua tempat saya berteduh. Di sini terlalu gaduh, saya kepayahan mencari suara tadi. Apa yang sekarang dia lakukan dalam kepala saya. Tangisnya tak lagi terdengar. Kemana dia pergi? Apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Hilang. Saya tak menemukannya. Lagi-lagi dia pergi, meninggalkan banyak pertanyaan yang sukar untuk ditemukan jawabannya. Petir menyambar di langit tinggi, kilat berkilauan. Semoga tak mati kau dalam penyesalan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: