Bahagia Untuk Siapa?

Setengah jam menjelang keberangkatan. Kami duduk di ruang tunggu bandara yang cukup ramai dan sesak. Tak ada pembicaraan, seolah terlalu sibuk dengan pikiran di kepala masing-masing.

Nining berulangkali melirik jam tangannya, ia nampak begitu gelisah. “Tenanglah, semua akan baik-baik saja.” Kucoba memecah kebisuan diantara kami.

“Semoga saja.” Bisiknya sambil menyandarkan kepala di bahuku. “Pasti ada jalan terbaik untuk menyelasaikan semua ini.” Jawabku meyakinkannya, meski aku sendiri tidak benar-benar yakin.

Tiga tahun kami berpacaran, dan sekarang, kami berada sangat dekat di ambang perpisahan. Permasalahan yang sangat klasik; aku seorang Minang, dan dia Jawa. Keluarga besarku menentang hubungan kami. Mereka beranggapan, Nining tak sepadan menjadi calon istriku.
Karena ia seorang gadis yatim piatu, dan hanya bekerja sebagai guru honor di daerahku.

Ingat Bujang, kita ini dari keluarga terpandang, dan kau itu seorang dokter. Banyak yang ingin membelimu dengan mahal. Ucapan mamak kembali terngiang di kepalaku.

Aku sungguh tak habis pikir, tradisi kuno semacam ini masih saja berkembang. Lebih parahnya lagi, semua terjadi dalam keluargaku sendiri. Aku muak, ingin menentang mereka dan berjuang demi kebahagiaanku bersama Nining. Namun sia-sia, aku hanya berjuang sendiri. Nining sama sekali tidak mendukungku. Ia tak ingin aku menjadi anak durhaka, dan memilih untuk memutuskan hubungan kami.

“Kenapa melamun, Uda?” Nining mengagetkan lamunanku. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang mengingat-ingat kenangan manis kita dulu. “Uda… Jangan berbicara seperti itu. Uda membuat langkahku semakin berat.” Ia menggenggam tanganku dengan erat.

“Nining. Berjanjilah, kau takkan mendahuluiku.”

“Maksud Uda?” Tanyanya penuh heran. “Kau akan menikah, jika aku telah menikah lebih dulu.”

Ia tersenyum. “Apa Uda mau juga berjanji? Tidak akan mencintai istrimu, melebihi aku?”

“Aku berjanji. Lagipula tak mungkin aku mencintai seseorang melebihi kamu.”

Menggeleng ia mendengar janjiku. “Itu cuma bercanda, Uda. Berjanjilah, siapapun yang menjadi istrimu kelak, cintai dia dengan sepenuh hatimu. Karena dengan begitu, kau juga telah mencintaiku.”

“Itu tidak mungkin, Nining!”

“Kenapa tidak, Uda. Apa Uda ingin menyia-nyiakan pengorbananku?” Air mata yang sedari tadi ditahannya pun meluruh. Aku tak tega, segera kupeluk ia. “Ning, kenapa kita harus memilih jalan ini. Kenapa kita tidak berjuang?”

“Uda, aku tidak ingin menjadi penyebab kedurhakaanmu.”

Panggilan dari petugas informasi bandara memutus perkataannya. Pesawat akan segera berangkat. “Aku harus pergi, Uda. Aku pegang janjimu.” Dikecupnya pipiku dengan begitu lembut. “Selamat tinggal, Udaku sayang.”

*****

“Aku selalu cemburu tiapkali kita berkunjung ke sini.”

“Istriku, sayangku. Janganlah berbicara seperti itu.” Aku mengusap punggungnya. “Bercanda kok, Suamiku sayang.”

“Ada-ada saja. Ayo, sudah sore. Mari kembali ke hotel, anak-anak pasti sudah menunggu kita.”

“Oh iya, katanya mereka ingin melihat monas di malam hari ya.” Kami pun bersiap-siap untuk pergi meninggalkan makam.

*****

“Batalkan saja perjodohan ini.”

Pertama kalinya aku melihat ia begitu marah. “Maafkan aku, sayang. Maafkan aku karena mengabaikanmu.” Entahlah, mungkin sudah terlambat. Tapi aku tak ingin kehilangannya. Aku tak ingin mengecewakan Nining untuk kedua kalinya. “Aku berjanji, aku akan membahagiakanmu.”

“Lantas, bagaimana dengan Nining, mantan pacarmu?”

“Ia akan selalu jadi kenangan, dan kau adalah alasanku untuk masa depan.” Kudekap ia, berharap menenangkan amarahnya.

“Kau selalu saja berhasil menyulitkanku, kau membuatku tak bisa menolakmu.” Ia berbisik di sela isak tangisnya. “Terima kasih, Sayangku.” Aku mempererat pelukan kami.

“Aku akan membahagiakanmu, dengan membahagiakannya, Nining.” Bisikku dalam hati

*****

“Aku sudah memaafkan. Tapi bukan berarti aku setuju.”

“Tolonglah, aku mohon. Ini amanah dari almarhumah.” Ibu berusaha melunakkan hatinya.

“Aku tak bisa, aku benar-benar tak bisa.” Ia menggeleng-geleng. “Aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang.”

“Maukah kau membahagiakan dia, dengan cara membiarkanku untuk membahagiakanmu?” Aku menyela. Berharap kali ini dapat mengubah keputusannya.

“Ambo setuju.” Jawab Nining dengan logat Minang-nya yang canggung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: