Maninjau Dan Bayi Kecil

Dear, Lebah Madu.

Libur long weekend ini, saya berada di Danau Maninjau. Berencana untuk melepaskan diri dari rutinitas yang melelahkan beberapa hari belakangan. Tapi semua tidak seperti yang direncanakan, di sini saya malah terjebak dalam rutinitas baru; merindukan kamu.

Entah kamu masih mengingat atau tidak. Di tempat ini, pertama kali aku menciummu. Suatu sore, empat tahun yang lalu, kita sudah berpacaran satu bulan lebih. Kamu begitu cemas, karena sepeda air yang kita kendarai tiba-tiba mati di tengah danau. Saya pikir, itu semacam konspirasi dari rindu yang ingin memberi kesempatan bagi bibir kita untuk saling berkenalan.

Saya masih mengingat semua dengan jelas, bahkan masih bisa merasakan betapa lembut bibirmu saat itu. Ah, saya benar-benar merindukannya. Ada satu hal lain yang paling saya rindu, secangkir kopi hangat yang kamu bawa ke kamar saya di pada setiap pagi selama kita berlibur di sini. Sederhana, tetapi sangat membahagiakan. Terlebih senyummu, adalah hal pertama yang saya lihat ketika membuka mata.

Namun hari ini, saya sendirian di sini. Duduk di pondok pinggir danau, tempat yang paling kamu suka. Menulis sepucuk surat, sembari memanggil kembali kenangan indah tentang kita, untuk menemani saya.

Lebah madu, bagaimana dengan liburanmu? Kabar terakhir yang saya dengar, kamu akan pergi untuk waktu yang cukup lama dalam urusan kerja. Semoga berjalan lancar, dan kamu bisa menyelesaikan semuanya. Saya percaya kamu bisa. Seperti kata-kata yang sering kamu ucapkan untuk menyemangati saya di saat jenuh tentang urusan kerja. Seberat apapun pekerjaanku, pasti langsung terasa ringan saat aku membayangkan wajah mungil seorang bayi, calon anak kita. Setiapkali selesai mengucapkannya, saya selalu merasa kamu bertambah cantik, dan saya makin mencintaimu.

Dulu, semua terasa begitu mudah. Hampir tak ada masalah yang benar-benar bisa menyulitkan kita. Mungkin karena cinta selalu mendoakan kebaikan untuk kita. Sekarang, semua seolah menjelma kerumitan bagi saya. Contohnya saja kali ini, saya berniat lari dari rasa bosan terhadap pekerjaan. Saya rindu semangat yang dulu seering kamu tularkan. Saya rindu matamu yang bercahaya setiapkali menyebut; wajah mungil calon bayi kita.

Apa sekarang kamu masih melakukan hal yang sama untuk menyemangati diri? Apapun jawaban kamu, saya berharap kamu selalu bersemangat. Karena saya masih meyakini, kelak cinta akan menemukan jalan dan membawa kita kembali bersama. Perpisahan ini hanyalah cara bagi kita untuk menyesuaikan hati. Biar nanti cinta bisa nyaman untuk tinggal di dalamnya. Serta bayi mungil itu, bukan lagi sekadar angan-angan kamu.

Sekian dulu surat dari saya. Titip salam dari rindu, untuk cinta saya yang kamu bawa bersama kepergianmu.

Dari seseorang yang masih berharap menjadi Ayah bagi anak-anak kamu. Benji.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: