Dua Kali Aku Merindu

Aku berusaha tenang, tak ingin tampak lemah di depannya. “Jika memang itu yang kau mau, aku terima.”

“Sam… Tolong jangan berpikir macam-macam tentang ini.”

“Entahlah, Sari. Tenang saja, aku tahu dan mengerti apa yang harus dilakukan.”

“Aku mencintaimu, aku ingin yang terbaik untukmu, Sammy.” Aku sungguh tak mengerti yang ia pikirkan tentang hubungan ini.

“Kau bilang cinta? Kau pergi, lalu minta aku untuk mencari penggantimu??. Omong kosong, katakan saja kau ingin putus!!!” Sari menggeleng, hendak menyela perkataanku.

“Sudah cukup. Semua selesai. Selamat jalan, selamat menjalani kehidupan baru, Sari!!”

“Tunggu, Sam.” Ia menarik lenganku, berusaha menahan. “Kau tidak mengerti, Sam. Bukan seperti itu maksudku.”

Aku tak peduli, bergegas pergi meninggalkannya. “Aku pasti kembali. Untukmu Sam, untuk kita.” Samar kudengar teriakannya. Tak kuhiraukan, perasaanku telah hancur. Aku sungguh membencinya.

*****

Sejak pertemuan terakhir, aku tak lagi tahu dan tidak ingin tahu tentang Sari. Semua telah berakhir. Pun begitu dengannya, tak ada kabar satupun.

Tidak mudah untuk menghadapi ini. Hidupku mendadak kacau. Nilai di sekolah anjlok, belum lagi aku harus menyiapkan diri untuk ujian akhir SMA. Semua gara-gara perempuan itu.

Sari, pacar pertamaku. Dua tahun hubungan kami berakhir dengan perpisahan. Orang tuanya dipindahtugaskan ke luar kota. Harusnya ini tak perlu jadi masalah besar, namun ia terlalu takut untuk berkomitmen. Atau mungkin ia telah menemukan pria lain yang lebih dariku, lantas menggunakan momen ini untuk mengakhiri hubungan, entahlah.

Lebih anehnya lagi, ia menyuruhku mencari wanita lain, sebagai pengganti dirinya. Itukah yang disebut cinta? Menurutku itu hanyalah alasan yang sangat mengada-ada.

Bagaimanapun juga, kini aku harus bisa menerima semua, dan terus melanjutkan hidup. Aku juga tak ingin berhenti dan terus menerus terpuruk.

Akan kucari wanita lain, seperti keinginan Sari. Mungkin itu jalan yang ampuh untuk melupakannya, mungkin.

*****

“Sammy, bangun dan sadarlah.” Gadis itu menatapku tajam. “Kau tidak bisa terus menerus hidup dalam kenangan dan masa lalu.”

Aku hanya diam mendengarkan. Aku merasa sangat bersalah, karena menjadikannya pelarian.

“Aku sudah berusaha sabar, menunggu, berharap kau melupakan masa lalumu, dan menganggap keberadaanku.” Ia terdiam, menghela nafas. Air matanya mulai berlinang. “Tapi semua sia-sia. Aku tidak pernah ada bagimu. Hanya ada Sari, Sari, dan Sari.”

“Intan, aku minta maaf. Tak seharusnya aku melakukan semua ini padamu.”

Ia menggeleng. “Tak ada yang perlu dimaafkan. Cinta tak harus memiliki, bukan? Sekarang, aku akan mencintai tanpa memilikimu. Serupa engkau yang mencintai Sari, tanpa bisa memilikinya.”

“Maafkan aku, Intan. Maafkan. Beri aku kesempatan, aku akan belajar mencintaimu. Aku berjanji…” Kebohongan apa lagi yang direncanakan otakku. Aku bahkan tak pernah bepikir untuk mencintai gadis ini.

“Aku pergi. Selamat tinggal, Sam. Selamat menghidupi masa lalu masing-masing.”

*****

Entah berapa wanita sebelum Intan yang jadi pelarianku. Namun Intan adalah yang terlama bersamaku. Ia begitu penyabar, tak seperti mereka yang lainnya.

Setahun lebih kami bersama. Bisa dibilang pacaran, mungkin juga tidak. Ia tidak pernah meminta yang macam-macam, ia berusaha menjadi pasangan yang baik bagiku. Meski kerapkali aku mengabaikannya.

Apa yang terjadi dengan hatiku. Padahal sudah tiga tahun lebih semenjak Sari pergi. Tapi aku belum bisa juga melupakannya. Aku selalu saja merindukan dia dan kebersamaan kami. Apa karena aku terlalu mencintainya, atau sebab lukaku yang masih membekas. Apapun itu, aku merindukanmu dengan sangat, Sari.”

*****

“Lihat nilaimu, hancur semua. Kau tidak bisa terus begini.” Dosen pembimbingku geram, melihat lembaran nilai semester di tangannya.

“Saya akan berusaha memperbaikinya, Pak.”

“Apa kau punya masalah? Aku tahu kau bukan mahasiswa yang bodoh. Kau bisa berbagi padaku.”

“Tidak ada, Pak. Saya akan belajar lebih giat.” Jawabku sekenanya. Tidak mungkin juga aku curhat tentang cinta pada dosen pembimbingku.

“Jangan bohong. Ini ada hubungannya dengan Intan. Aku tahu. Ia juga bermasalah sepertimu!”

*****

Setelah obrolan yang tak terduga dengan Pak Herman, aku merasa jauh lebih lega. Ia memberi pemikiran-pemikiran yang baru, serta berbagi pengalaman hidupnya.

Di usia 43 tahun, telah menikah dan memiliki 3 orang anak, aku juga masih sering teringat pada pacar pertamaku.

Tapi kau harus tahu. Kita cuma boleh sekadar mengingat, tidak lebih. Contohnya aku; meski aku sering mengingatnya, aku selalu mensyukuri apa yang aku miliki sekarang, dan bertanggung jawab padanya. Aku akan melakukan semua yang terbaik, untuk diriku, untuk anak istriku. Bukan untuk pacar pertamaku.

Sam, jangan pernah coba untuk melupakan Sari. Simpan ia dalam ingatanmu. Teruslah berjalan, jangan sia-siakan waktumu. Di depan sana, ada kebahagiaan yang menantimu.

Pak Herman telah membangunkanku. Aku tak boleh terus begini, aku harus bangkit. Aku tidak sendirian, ada Intan yang selalu mencintaiku. Terima kasih, Tuhan.

*****

“Aku datang menepati janjiku. Aku kembali untukmu, untuk kita.” Ia semakin cantik sekarang, begitu anggun.

“Untuk apa kau kembali. Aku sudah melupakan semua.” Aku tak mau terbawa perasaanku yang dulu terhadapnya.

Ia menatap sayu. “Sudah kuduga. Ini tak ada artinya bagimu, Sam. Empat tahun aku menyimpan cinta untukmu, menunggu hari ini, untuk kembali seperti dulu lagi.”

“Jangan cuma bicara tentang dirimu. Kau tahu betapa hancurnya aku setelah kau pergi. Tak ada satupun kabar setelahnya. Aku harus bersusah payah memperbaiki kembali hidupku!” Aku ingin sekali melampiaskan kemarahan ini padanya.

“Aku minta maaf. Beri aku kesempatan, aku ingin memperbaiki semua. Sekarang aku bekerja di kota ini. Aku akan selalu bersamamu, aku takkan meninggalkanmu lagi, Sam.”

“Kau pikir semudah itu? Lupakan saja. Aku telah mencintai gadis lain, seperti yang dulu kau minta.”

“Jadi kau memang mencari gadis lain, untuk melupakanku. Aku kecewa mendengarnya. Aku pikir cintamu sangat besar untukku. Sejujurnya aku berharap kau akan mencariku, paling tidak menungguku datang. Namun ternyata…”

“Jangan mengambil kesimpulan sembarangan!”

“Tidak apa, Sam. Aku ikut bahagia untuk kalian. Semua memang sudah tidak ada artinya bagimu.” Sari pergi, meninggalkanku dalam kebimbangan. Aku ingin, tapi tak ingin untuk menahan atau mengejarnya.

*****

Hidup tidak pernah bisa  diterka. Masalah datang dan pergi, silih berganti. Kita masih saja sama, berdiam dalam penantian.

Kenapa Sari harus kembali sekarang. Di saat aku telah mampu berdamai dengan kenanganku, dan mulai mencintai Intan.

Apa yang harus kulakukan sekarang. Aku tidak mengerti. Kemana waktu akan membawa takdirku.

Siapa yang harus kupilih? Hatiku saja tidak tahu jawabannya.

*****

“Maafkan aku. Tolong maafkan aku.” Aku berlutut di depan gundukan tanah basah makam itu.

“Sudahlah, Sam. Tak perlu menyalahkan diri. Kecelakaan itu sama sekali bukan salahmu.”

“Ia tak seharusnya pergi dengan keadaan begini.” Aku sangat menyesal. Hanya kekecewaan yang ia dapatkan dariku. Bahkan di detik terakhir hidupnya.

“Andai aku bisa menahannya kala itu, ini takkan terjadi.” Dadaku sesak, mengingat pertemuan terakhir kami.

“Sammy. Dialah cinta sejatimu, bukan aku. Firasatmu telah telah membuktikan semua.” Ujarnya lirih.

“Kenapa aku selalu lemah dengan perasaan ini. Aku tidak pernah bisa tegas dan memilih.”

Kupeluk dia, berusaha menenangkannya. Kami benar-benar terpukul atas kejadian ini. “Maafkan aku. Aku mencintaimu, dan aku juga sangat menyanginya.”

“Aku mengerti, Sam. Tak perlu merasa bersalah padaku. Sayangi dia, hidupkan ia dalam kenanganmu. Biarkan ia ada diantara kita.”

*****

“Aku mengerti, Sam. Sudah kuduga, hal ini mungkin terjadi.” Ia berusaha tegar, tapi matanya tak bisa menipuku.

“Maafkan aku, karena merebut Sammy darimu.”

“Kamu tidak merebutnya dariku. Tapi hati Sammy yang telah memilihmu. Jagalah dia, bahagiakan dia.”

“Aku permisi dulu. Selamat tinggal.”

“Tunggulah barang sebentar, hujannya masih deras.” Entah kenapa, tiba-tiba aku berusaha menahannya.

“Tidak perlu, Sam. Bagiku, menunggu hanya selalu membawa kekecewaan. Setidaknya, hujan kali ini akan menyamarkan air mataku.”

Aku terhenyak mendengar jawabannya. Ia segera berlalu, menembus hujan deras di depannya. “Semoga firasat ini tak benar.” Gumamku dalam hati.

*****

“Aku merindukanmu, dengan sangat Intan. Baik-baiklah di sana.” Kukecup nisannya.

“Sari titip salam untukmu. Ia tak bisa ikut kali ini. Si bungsu sedang demam, ia tidak masuk sekolah dan istirahat di rumah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: