Alur Yang Putus

“Aku pasti kembali, dan memperjuangkanmu. Tunggulah, dengan kesabaran dan kesetiaan.” Ucapannya yang dulu kembali terngiang dalam pikiranku, sebelum ia menghilang tanpa kabar. “Sial, bodohnya aku bisa tertipu.” Kulanjutkan merias wajahku, jangan sampai tamu-tamu undangan melihat penampilanku yang kusut, terutama calon suami pilihan orang tuaku.

*****

“Ceritakan padaku, Padang itu seperti apa?” Kurebahkan kepala di dadanya, ia tersenyum. “Padang itu biasa saja, tidak seperti Makassar yang luar biasa, karena di sini ada kamu.” Ia tertawa, begitu renyah.

Aku tahu pasti, ia sedang menggombaliku, tapi entah kenapa, hal semacam itulah yang membuatku nyaman berada di dekatnya; seorang mahasiswa perantauan dari Padang, Sumatera Barat.

Lelaki yang tiga tahun belakangan menemaniku. Ia telah banyak memberi perubahan dalam hidupku. Bersamanya, aku mengetahui; hidup itu bukan hanya sebatas keberadaan, namun ketiadaan yang seringkali dianggap sebagai kemalangan.

“Jika memang begitu, kelak, maukah Uda tinggal di kota yang sempurna ini bersamaku?”

“Tentu saja, andai Bapakmu bersedia menerima mahasiswa miskin sepertiku, jadi suami anak gadisnya.” Ia menatapku, begitu dalam. Oh, aku benar-benar mencintainya.

*****

Aku terdiam, tak berani menatap wajah mereka. “Andini, sekarang sudah lewat dari batas waktu yang kita sepakati.” Bapak mulai angkat bicara. “Kau harus menepati janjimu.”

“Tapi Pak, aku belum siap.”

“Sudahlah, Ramon tidak akan pernah datang. Dari semula kan sudah ibu peringatkan, dia itu mendekatimu hanya untuk menumpang hidup. Lihat sekarang, setelah dia lulus kuliah, dia meninggalkanmu!”

Aku benar-benar merasa tersudut sekarang, ucapan ibu semakin membuatku terpuruk. Dua tahun penantianku hanya sia-sia. “Baiklah. Aku akan menerima siapapun yang bakal kalian jodohkan.”

******

Air mataku meluruh, setelah pria itu selesai mengucapkan ijab qabul. “Aku telah menjadi seorang istri” gumamku dalam hati.

Perasaanku bercampur aduk. Kulihat seluruh keluarga tampak berbahagia menyambut pernikahan ini. “Jadilah istri yang baik, patuhi suamimu. Aku percaya, kalian bisa menjadi keluarga yang bahagia. Bapak rasa, dua tahun adalah waktu yang cukup, untuk membuktikan keseriusan kalian.” Bapak menasehatiku, sedang ibu hanya memelukku. “Temuilah suamimu.” Bisiknya di telingaku. “Terima kasih, kalian telah menyiapkan kebahagian ini untuk kami.” Kupeluk mereka dengan erat. Orang tua selalu punya rencana terbaik bagi anaknya, dan aku bersyukur memiliki mereka.

*****

“Jadi kapan kita ke Padang, suamiku?”

Tak ada jawaban, hanya ciuman yang ia daratkan di bibirku. Malam ini, Makassar bukan lagi sekadar luar biasa, ini surga. Semua memang indah pada waktunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: