Satu Hati, (mungkin) Untuk Dua Bidadari

Kuberanikan menatap gadis di depanku. Ia hanya diam membalas tatapanku. “Maafkan aku, sayang…”

“Aku telah memaafkanmu?” jawabnya datar. Sungguh, bukan ini yang aku bayangkan. Aku lebih menyukai ia marah, menghardik, bahkan mencaciku untuk menumpahkan amarahnya.

“Tapi…”

“Sudahlah, anggap saja ini hadiah di hari perpisahan kita” cegatnya sebelum aku sempat menjelaskan.

*****

“Aku harus pergi sekarang”

“Tenang saja, Cinta. Pacarmu yang baik itu pasti belum sampai.” Ia melingkarkan tangannya di pinggangku, coba menahanku.

“Aku tak ingin terlambat, dan mengecewakannya lagi.” Bergegas kurapikan semua pakaianku.

“Kau melupakan ini” ia menyodorkan jas milikku. Kulihat pria telanjang itu tersenyum, di belakang pacarku. Penuh kemenangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: