Bukan Selera Amak

“Wah, sayurannya segar sekali.”

“Mau tambah lagi, Mas?” Istriku tersenyum, dan menawarkan lagi sayur lodeh yang baru ia masak sepulang dari kantor.

“Boleh, tolong ambilkan ya.” Kusodorkan piring padanya.

“Dedi, nanti belikan amak nasi ramas pakai rendang, beri cabe yang dan kuah gulai yang banyak.” Ibuku yang sedari tadi hanya diam melihat makanan dalam piringnya pun bersuara.

“Ibu tidak suka masakan ini?” Ratih coba mencairkan keadaan kami bertiga di meja makan.

“Iyo, Mak. Cobalah sayur lodeh ini, enak rasonyo.”

“Jangan lupa, belikan saja nasi padang pesanan amak, antar ke kamar.” Perkataanku dan Ratih tidak ada gunanya, ibu berlalu pergi menuju kamarnya.

******

“Sudah den peringatkan dari dulu, jangan kawin dengan orang jawa. Memasak saja dia tidak bisa, masakan macam apa yang manis seperti itu.” Celetukan ibu seraya memakan nasi padang yang kubeli untuknya.

“Tak perlu diungkit lagi masalah itu, Mak. Mungkin sudah jodoh.”

“Entah lah, seperti tidak ada padusi minang saja. Bagaimana dia bisa mengurus suami, mengurus dapur saja tak becus.” Aku hanya diam mendengarkan, tak ingin menyanggah perkataan Amak.

*****

“Kerjamu menghabiskan uang suami saja!” Sindir ibu pada Ratih.

“Ibu, saya cuma memberi sedikit pada orang tua. Mereka kan orang tuanya Mas Dedi juga.”

“Ada apa, Mak. Kenapa masalah uang terbawa ke meja makan?” Tanyaku heran menanggapi situasi di antara mereka.

“Lihat istrimu, tadi dia memberikan banyak uang pada bapaknya!”

“Mak. Janganlah seperti itu. Wajar saja, lagipula Ratih juga bekerja.”

“Sudahlah. Amak tahu perangai istrimu! ”

“Cukup, Mak. Ambo beritahu yang sebenarnya.” Ratih coba menahanku.

“Kuliah ambo bisa selesai berkat bantuan Ratih, Mak. Dia yang menolong biayanya. Setelah ambo lulus, dia juga yang memasukan ambo kerja di tempat orang tuanya. Janganlah berburuk sangka, Mak.”
Amak terdiam, mendengar penjelasanku.

“Ratih yang melarang ambo memberi tahu amak, dia tidak ingin ambo malu di mata amak dan orang kampung.” Kugenggam tangan istriku, berusaha menenangkannya.

“Carikan amak tiket malam ini juga, amak mau pulang ke Padang!” Seperti biasa, amak hanya memberikan perintah. Bahkan setelah kujelaskan kebenaran padanya.

*****

“Ibu di sini saja, maafkan ratih kalau banyak salah sama Ibu.”

“Tidak usah, Piak. Biar amak pulang saja besok.”

“Tolonglah saya, Bu. Jangan biarkan Ratih menjadi istri durhaka, yang tidak menepati amanah dari almarhum Mas Dedi.”

“Ondeh, Piak. Benar-benar elok perangai kau, Nak. Andai malam itu amak tidak bersikeras menyuruh Dedi mencari tiket, mungkin dia tidak akan mengalami kecelakaan itu.”

“Biarkanlah Mas Dedi tenang di sana, Bu. Yang paling penting, Ibu harus tetap di sini. Ratih akan menjaga ibu, sebagai bakti Ratih pada Almarhum Mas Dedi, dan Ibu sebagai orang tua Ratih.” Mereka berpelukan, untuk pertama kalinya.

Puji tuhan, aku bahagia. Mereka bisa akur, meski aku tidak bersama dengan mereka lagi. Sekarang aku bisa beristirahat dengan tenang, aku percaya Ratih akan menjaga ibu.

Advertisements
Comments
4 Responses to “Bukan Selera Amak”
  1. Selalu ada twist di cerita blog ini. Like that.

  2. pelangipatah says:

    Yang ini keren kak. Aku suka saja membacanya. Tapi benarkah anak laki-laki Padang membawa ibunya ke dalam rumah tangga mereka? Betapa klasik sebenarnya ya…

    Sukaa… mau belajar nulis kayak kakak πŸ™‚

    • benjalang says:

      Sebenarnya tidak juga, anak laki-laki di minang harus membawa ibunya ke dalam keluarga. Tapi dalam cerita ini, si ibu hadir dalam keluarga karena si bapak sudah tidak ada, jadi sebagai bentuk bakti anak pada ibunya.

      Makasih ya udah mampir πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: