Dua Sarapan

“Kalau sudah bosan, silahkan pergi!” Jawab istriku dengan santai, sambil terus menyantap roti sayurnya.

“Kau mengusirku?”

“Mengusir? Bukannya kau yang sudah tak nyaman dengan keadaan kita?”

“Aku hanya minta lebih banyak waktumu, itu saja.” Aku berusaha menjelaskan kepadanya. “Aku ingin kita kita lebih sering bersama, dan mulai memikirkan tentang anak.”

“Baik, akan kuberi waktu yang banyak. Tapi bisakah kau berikan aku uang yang banyak, lebih dari yang selalu kuberikan untukmu. Kau sanggup?”

Telingaku berasa panas mendengar pertanyaanya. “Kenapa diam? Ayo jawab!” Ia semakin menyudutkanku.

“Jangan aneh-aneh, ingin anak segala. Kalau aku hamil, itu hanya merusak penampilanku! Sudahlah, aku bisa terlambat ke kantor.” Aku benar-benar merasa tidak punya harga diri di depannya.

“Nanti aku kirim lagi uang ke rekeningmu. Pergilah bersenang-senang.” Ia mengecup keningku, lalu berlalu meninggalkanku di meja makan.

*****

“Ubi? Bagaimana aku bisa semangat bekerja!” Hardiknya saat melihat sarapan yang kusiapkan. “Cuma ada ini, sayang. Uang yang kau beri kemarin sudah habis.”

“Jadi kau menyalahkanku? Karena tidak bisa memberi banyak uang!” Teriakannya semakin keras, sampai bayi kami terbangun.

“Kau saja yang tidak pandai mengurusi uang.” Ia bergegas pergi, tak menyentuh sarapannya sedikitpun.

*****

“Bagaimana sarapannya, Sayang?”

“Enak sekali, jarang-jarang aku bisa makan roti sayur ini.”

“Sandwich namanya.” Istriku tersenyum geli. “Di sini, sandwich adalah makanan wajib setiap sarapannya.

Aku merasa menjadi lelaki paling bahagia sekarang. Memiliki istri cantik, dan yang terpenting punya banyak uang. Sempurna sudah hidupku.

******

“Baiklah, aku ikhlas.” Kutandatangani surat cerai yang diberikannya. Rumah tangga kami sudah tidak bisa dipertahankan lagi.

Suamiku sudah terpikat dengan rayuan janda kaya raya itu, ia kehilangan akal sehatnya.

“Bagus. Tenang saja, anakmu akan kuberi jatah setiap bulannya, tak perlu khawatir. Istriku punya banyak uang.” Ia berkata dengan sombongnya.

“Anakmu takkan pernah sarapan ubi seperti ini lagi.” Hatiku benar-benar terenyuh, persis seperti ubi rebus yang diinjaknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: