Mukjizat Untuk Siapa?

Tiga Hari Menjelang Wisuda

“Tenang saja, sayangku. Yang terpenting sekarang, persiapkan dirimu sebaik mungkin. Aku pasti akan selalu bersama denganmu.”

Kubaca lagi sms itu, kata-katanya selalu saja bisa menenangkanku. “Aku akan mempersiapkan yang terbaik. Untukmu, cintaku.” Kukirimkan balasan padanya.

Aku benar-benar menantikan acara wisuda ini. Wisuda yang awalnya tidak pernah terbayangkan. Bagaimana tidak, hukum bukanlah bidang yang kuminati. Namun kedua orang tuaku mengarahkan untuk memilih bidang ini, untuk melanjutkan firma hukum papa, kilah mereka. Dengan keterpaksaan, aku menuruti kemauan mereka.

Dalam perjalanannya, aku mengalami pemberontakan dalam diriku sendiri. Sering bolos kuliah, dua semester awal nilaiku jeblok, serta beberapa masalah akademis lainnya.

Hingga aku bertemu dengan Ardy, senior di kampusku. Seorang pria yang membantuku berdamai dengan keadaan. Dia mengajariku banyak hal tentang kehidupan, serta mengenalkanku pada cinta. Dia benar-benar merubah diriku. Semua yang telah ia lakukan, menjadi alasanku untuk sangat mencintainya. Dia orang terpenting dalam hidupku, pembimbingku, dan kuharapkan kelak akan menjadi imam yang memimpin kehidupanku.

Dua Hari Menjelang Wisuda

“Cintaku, kamu lagi apa? Aku baru pulang dari kampus, mengurus ijazah dan semua tetek bengeknya. Aku rindu kamu, sayangku.” Kukirimkan sms itu kepadanya.

Ya, sms adalah penghubung bagi kami sekarang. Sejak dua tahun yang lalu dia dipindah tugaskan ke Kalimantan. Menelpon pun cuma bisa pada hari Minggu, saat dia ke kota. Karena tempat tinggalnya susah sekali mendapat sinyal.

“Ada yang kangen ya? Kok bisa samaan gitu. Sibuk tadi di kampus? Tapi shalat dan makannya gak lupa kan sayangku.” Dia pasti lagi senggang, biasanya balas sms itu sangat lama. Kadang membuatku kesal. Ya resiko hubungan jarak jauh.

“Berarti kita jodoh dong, udah banyak kesamaan. Enggak lupa kok, aku kan selalu ingat pesanmu, calon suamiku yang paling kucinta” Kutambahkan beberapa simbol senyum di akhir sms sebelum dikirim.

“Tuh kan, ini ketiduran atau lagi ada kerjaan, dianggurin lagi deh sms nya,” gerutuku dalam hati. Tapi belakangan ini aku sudah mulai bisa memahami. Tidak seperti dulu yang selalu ngambek setiap dia lama membalas sms.

“Jika aku adalah yang terbaik bagimu menurut Tuhan, aku pasti akan menjadi suamimu sayangku. Istirahat gih, besok mau nyiapin kebaya kan.” Ternyata dia belum tidur, senangnya.

“Aku akan selalu berdoa, semoga kau yang terbaik untukku. Sejujurnya, aku sangat ingin kamu hadir, menjadi pendampingku.” Mataku berkaca, mengingat orang yang kusayang tidak bisa datang di acara nanti.

“Sayangku, doakanlah yang terbaik untuk kita. Dan doakan juga sebuah mukjizat, agar aku bisa menemuimu secepat mungkin. Sebab aku juga sangat menginginkannya. Tidurlah, bermimpilah dengan segala kebaikan” Air mataku meluruh. Mukjizat, aku suka dengan kata itu.

“Tentu segala doa baik untuk kita. Malam ini, aku akan berdoa agar Tuhan memberimu kesempatan untuk memenuhi janjimu, kau berjanji akan bersamaku sampai aku di wisuda, dan terus mendampingiku. Aku percaya, mukjizat itu nyata. Aamiin.” Seperti biasanya, dia selalu bisa membangkitkan semangatku. Sekarang, aku memiliki harapan untuk kuserahkan pada Tuhan. Semoga Dia mengabulkannya.

Satu hari Menjelang Wisuda

“Kemalaman ya Sayangku,” suara itu…

“Ardy…” Aku melompat kegirangan, setengah tak percaya. “Kamu datang juga. Oh, aku tahu. Pasti selama ini kamu cuma mempermainkanku, berpura-pura tak bisa datang.”

“Aku datang untuk memenuhi janjiku. Dan doamu semalam, telah melapangkan jalanku. Lihatlah, mukjizat itu ada kan?” Aku dapat melihat lagi senyuman itu, senyuman paling damai yang selalu menenangkanku.

“Aku menamainya, keajaiban cinta. Mari masuk dulu.”

“Sudah malam, lagipula aku belum mampir ke rumah.”

“Tapi aku masih rindu, masa cuma sebentar saja.” Aku merengek pada Ardy.

“Simpanlah kerinduanmu, pada saatnya nanti, itu akan menjadi sebuah ledakan maha dahsyat.” Ia menggenggam tanganku.

“Kamu sakit, cinta. Tanganmu dingin sekali?” Ia menggeleng. “Baiklah, akan selalu kusimpan rinduku, untukmu.”

“Aku senang mendengarnya. Segeralah istirahat, esok adalah harimu. Serta ingatlah satu hal, semua yang telah kamu lakukan selama ini akan menjadi sesuatu yang bernilai. Tetaplah bersemangat melakukan semua kebaikan, Tuhan senantiasa melindungi orang-orang baik”

Aku mengangguk. “Tuhan, jangan pernah pisahkan aku dengannya,” aku berdoa di dalam hati dan terus melihatnya hilang dari pandanganku.

Hari Wisuda

“Om, Tante…” Kusalami mereka, orang tuanya Ardy.

“Sri, selamat ya. Udah jadi sarjana sekarang.” Ibu Ardy menyelamatiku.

“Terima kasih Tante. Oh iya, Ardy mana Tante?”

“Sri, ada yang ingin kami sampaikan.” Wajah mereka mendadak tegang.

“Ardy meninggal dua minggu yang lalu. Dia kecelakaan di Kalimantan, kondisinya sangat parah. Ia tak sanggup bertahan lama.”

“Tante, ga lucu ah. Kami masih sering sms kok, bahkan kemarin malam dia nemuin aku.”

“Ardy udah ga ada, Sri. Dia melarang kami memberitahumu perihal kecelakaannya. Sebab dia ingin kamu bisa menjalani wisuda ini tanpa beban. Ini ada surat terakhir darinya.”

Masih diliputi rasa tidak percaya, kubuka surat yang diberikan oleh mamanya Ardi.

“Bersemangatlah, Sri. Serupa aku yang tak akan lelah berjuang agar bisa memenuhi semua janjiku padamu, dengan cara apapun. Sebab, aku selalu percaya mukjizat itu nyata. Jangan pernah pertanyakan bagaimana caranya mukjizat ini bekerja, sebab rahasia Tuhan muskil untuk bisa kita terima. Satu lagi permintaanku, tolong jangan menangis. Aku tak ingin kuburanku dibanjiri oleh air matamu.”

Aku terhenyak, benar-benar tidak percaya. Mukjizat? “Oh, Tuhan. Ada apa ini.”

 

*****

“Kau sungguh hebat.” Kusentuh batu nisan itu. “Semua sangat berat untukku. Tapi aku akan kabulkan keinginanmu. Lihat, tak ada air mataku. Kini, aku sangat percaya mukjizat itu nyata. Aku akan tetap bersemangat, serta doaku selalu untuk kebaikan kita. Di sini kita tak mungkin bersama, tapi aku yakin mukjizat akan menyatukan kita kelak, di kampung akhirat. Aku akan melanjutkan hidup, seraya menunggu waktu yang akan mempertemukan kita, sayangku.”

 

—••—

“Aku rela melepasmu Sri, serupa kau yang rela melepaskan Ardy. Beristirahatlah dengan tenang. Maafkan aku yang belum sempat membahagiakanmu, istriku.” Kupeluk buku harian Sri. Aku tak ingin lagi melanjutkan untuk membaca buku hariannya.

“Tuhan, tiada akal yang dapat menyibak tabir rahasia-Mu. Limpahkanlah kebaikan bagi kami semua.” Kusimpan kembali buku harian itu.

“Sri, kau begitu elok. Bahkan tak sekalipun engkau membuatku kesal apalagi marah selama dua tahun pernikahan kita. Kau selalu menjadi istri yang menjunjung aku sebagai suami. Maaf, kali ini aku mengecewakanmu lagi. Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, aku tak bisa menyelesaikan membaca ini. Biarlah semua menjadi rahasia terindah dari Tuhan. Aku akan selalu mencintaimu istriku, dengan caraku. Aku menunggu mukjizat untuk kita, dan aku akan membesarkan bayi kita. Semoga ia menjadi wanita yang kuat seperti ibunya.”

Advertisements
Comments
2 Responses to “Mukjizat Untuk Siapa?”
  1. subhanallah.. karyamu ini sangat menyentuh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: