Bukan Sajak, Pun Puisi

Kuseduhkan secangkir kopi hangat, sebagai teman untuk menjelajah malam.
Wanginya mengundang kerinduan, usik kenangan dari lelap tidurnya. Sekejap aku terbuai, melupakan waktu yang berjalan sendirian.

Di langit kelam menyelemuti, bersama kabut bersekongkol menyergap, pekat menjerat. Kusulut sebatang rokok, sekedar suar penunjuk arah.

Kemudian hujan, meluruh bersama angin yang lalu lalang, meniupkan beku yang kian menggerogoti.

Pikiran mulai menerawang jauh, mencari-cari sosok terang sebagai pelita, meski di depan sana hanya ada lorong hitam yang mungkin tak berbatas.

Sesak menjalar di dada. Ingatan mulai kusut, bersilangan serpihan kenangan yang berserakan. Kepala kian berat, menahankan beban yang menyentak. Tiba-tiba rokok membakar jari, menyadarkanku dari lamunan yang belum mau berkesudahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: