Di Sela Upacara

Aroma minyak angin menusuk hidung, pelan-pelan kubuka mata.

“Kau pingsan saat upacara.” Dido, teman sekelasku, menemaniku di ruang kesehatan.

*****

Kurasakan sepasang tangan bermain di selangkanganku, dan lidahnya menjilati dadaku.

“Dido, jangan!” Teriakku, namun suaraku terlalu lemah untuk menghentikannya. Aku berusaha melawan, namun sia-sia. “Tenanglah, sebentar saja. Hanya sampai upacara selesai.”

*****

Kepala sekolah duduk di hadapan kami. Matanya menatap tajam, setelah ia memergoki Dido menyetubuhiku.

“Aku akan bertanggung jawab, Pa!” Dido membuka suara.

Aku menunduk, tak berani berkata-kata. Sakit kepalaku makin menjadi-jadi.

“Tanggung jawab? Kau mau menikahinya?!” Hardik kepala sekolah.

“Tentu!”

‘Plakk…’ Tamparan mendarat di pipi Dido. “Gila! Dia calon ibu tirimu, dan sedang mengandung adikmu!”

Dido terhenyak menatapku, seolah tidak percaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: