Perantau

“Cantik yang memuakkan!” Gumamku dalam hati saat melihat penampilannya.

Ia memang tampak menawan, dalam balutan gaun putih, lengkap dengan asesoris pengantin wanita. Namun aku seolah tak mengenalinya. Banyak hal yang berubah dari dirinya, bahkan jilbab yang dulu selalu ia kenakan tak lagi menutupi rambutnya.

“Benar-benar berbeda. Kota ini telah mengubahnya.”

Kami saling memandang, lekat. Tiada kata yang terujar, sama-sama terdiam.

“Lihat dirimu! Ini yang kau dapat setelah jauh dari rumah dan mengadu nasib di Jakarta?!!” Teriakku memecah keheningan.

Tiba-tiba suara derik pintu menghentikan makianku. “Sudah waktunya, Ratih. Calon suamimu dan pendeta telah menunggu di altar.”

Aku segera bangkit dan beranjak mengikuti pendampingku. Meninggalkan wanita yang sedari tadi duduk dalam cermin riasku.

Advertisements
Comments
10 Responses to “Perantau”
  1. waduh… bisa saja karyamu ini mas bro, hampir terkecoh nih.. butuh dua kali membacanya.. salut……

  2. wow menarik mas! klo dibaca selintas bisa ketipu, sikap mendua, tipikal orang2 rantauan yg kehilangan identitas 🙂

  3. ajeka says:

    karyanya kak ben selalu bener-bener keren! aakk bacanya nggak bisa sekali X)

  4. hildabika says:

    Bagus banget! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: