Bukan Cinta Untukku

Kupandangi secarik foto yang baru kudapat dari facebook miliknya. Ia semakin cantik, lebih cantik dibanding saat pertama kali kami bertemu. Hari dimana ia memutuskan untuk menyerah dan berpaling ke pelukan sahabatku.

Dua tahun telah berlalu, ada banyak hal yang berubah pada diriku, pasti begitu juga dengan dirinya.

Pikiranku kian menerawang, menelisik semua angan di kepala tentang aku dan dirinya. “Dulu begitu indah ya, sayang. Aku merindukan semua, aku ingin mengulang kembali masa-masa seperti itu.”

*****

Sejak kandasnya hubungan kami, aku berjuang untuk bangkit dan melupakan semua kegagalan itu. Namun semua terlalu sulit, tak semudah yang dibayangkan.

Semua mulai berubah, setelah aku bertemu dengan Ki Jombrang. Seorang dukun yang mengubah hidup dan jalan pikiranku. “Cinta itu harus memiliki, bukan cinta namanya bila tak dapat terbalaskan.” Kat-kata darinya membangkitkan semangatku, dan aku harus mengejar kembali cintaku.

Semakin lama bergaul dengan Ki Jombrang, aku jadi semakin terobsesi. Berawal dari obrolan ringan di kedai kopi, hingga beberapa kali bertamu ke rumahnya. “Semua ada jalannya, termasuk dalam urusan cinta.” Percikan api asmara membara lagi, setiap kali ia menyinggung perihal percintaanku yang kandas.

Setelah membulatkan niat, aku memutuskan untuk berguru dan menimba ilmu padanya. Tujuannya jelas, mengembalikan Astuti ke dalam pelukanku. Ki Jombrang menyambutku dengan tangan terbuka. Ia mengangkatku menjadi muridnya.

Selama berguru, aku memperoleh berbagai kepandaian, mulai dari kesaktian ragawi, pamor, dan percintaan. Hidupku makin salah arah, aku sangat jauh dari Tuhan. Hari-hariku penuh ritual dalam menuntut ilmu perdukunan.

Semakin hari kepandaian yang kupunya makin banyak. Aku terlena dengan keadaanku yang sekarang. Apalagi dengan sebutan sakti mandraguna dari teman sejawatku, aku merasa kian di atas angin. Sejalan dengan itu, obsesiku pada Astuti makin membumbung.

*****

Malam ini sampailah di puncak penantianku. Aku akan gunakan seluruh kesaktiann yang kupunya untuk merebut Astuti kembali. Aku tidak peduli ia telah bersuami, bagiku itu bukanlah halangan. Aku ingin memuaskan hatiku, melampiaskan semua kedukaan yang dulu mereka beri padaku.

*****

Dia memelukku, begitu erat. Seolah kami adalah pasangan kekasih yang lama tidak bertemu. Aku tertawa dalam hati, pelet milikku telah berhasil memperdaya dirinya.

Astuti telah kehilangan semua ingatannya, ia benar-benar di bawah pengaruh dan kekuasaanku sekarang. “Aku mencintaimu, sayang.” Aku berbisik di telinganya, dia tersenyum melihatku. Kami bergumul, tak ada sedikitpun penolakan darinya. Akhirnya aku bisa menikmati tubuh wanita yang sedari dulu aku idamkan.

*****

Ia keluar dari kamarnya, dengan mengenakan sarung dan peci. “Baiklah, jika itu yang kamu inginkan Astuti. Aku akan menceraikanmu.” Aku heran melihat reaksinya, begitu mudah dia melepaskan Astuti.

“Aku telah bertanya pada Tuhan, dan dia memintaku untuk melepaskan Astuti. Karena menurut-Nya, kamu adalah pria yang baik. Dan bisa membahagiakan Astuti jauh lebih baik dibanding aku. Kau juga akan menjadi imam yang akan membimbing Astuti ke jalan yang baik. Jadi kalau seperti itu kata Tuhan, aku akan mengikhlaskannya. Aku percaya pada Tuhan, aku pun mencintai Astuti. Jika Astuti jauh lebih bahagia bersamamu, aku akan melepaskannya berbahagia bersamamu.”

Jawabannya telah menelanjangiku. Aku benar-benar merasa tertampar, aku malu padanya, pada diriku, terlebih pada Tuhan. Ia pria yang hebat, pantas saja Astuti lebih memilihnya. Ia adalah seorang suami idaman, imam bagi istrinya. Menyerah, kulepaskan semua guna-gunaku pada Astuti.

*****

Ternyata aku tidak benar-benar mencintainya. Aku hanya bernafsu memilikinya. Sekarang aku ingin dia bahagia bersama orang yang ia cintai dan mencintainya. Aku berjanji pada diriku untuk menemukan cinta sejatiku dengan cara yang lurus, bukan dengan cara menyimpang.

Ikhlas memang obat terbaik bagi hati yang luka. Dan sekarang aku ikhlas dengan takdirku. Semoga Tuhan memaafkan semua dosaku, dan membimbingku kembali ke jalan-Nya.

P.S. Cerpen pertama yang saya tulis, dan pertama kali saya posting di http://www.jejakubikel.com

Advertisements
Comments
6 Responses to “Bukan Cinta Untukku”
  1. ikhlas….? baiklah.. aku ikhlas membaca semua karyamu… hehe..

  2. weeh sepakat nih mas, klo ikhlas mudh2an jalannya jadi lempeng buat dapet ganti yang sepadan atau bahkan bisa lebih baik hehehe

  3. Momo DM says:

    Ikhlas juga ah! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: