Hujan Turun Lagi

Hujan meluruh, seolah ikut bersimpati dengan kesedihan yang tengah berkecamuk dalam pikiranku. “Sial, jadi seperti ini balasannya. Dasar perempuan tak tahu diuntung!” Aku mengumpat dalam hati, mengingat kembali kejadian barusan.

*****

“Hai Ben”, kudengar suara lembut seorang perempuan menyapa.

“Hai juga, Beb, tumben nangkring di sini?”

“Iya nih, anak-anak pada gak keliatan batang hidungnya. Mungkin pada kena wabah jerawat kali ya, jadi gak pede seliweran di kampus”, ia tertawa cekikikan, sangat manis.

Bebi namanya, mahasiswi idola di kampus. Supel, cerdas, cantik, dan pastinya menarik. Modal yang komplit untuk jadi sasaran para laskar jomblo.

“Kamu sendiri juga mulai jarang kelihatan semester ini, Beb, sibuk ya?”

“Ga kok, berusaha menyibukkan diri aja, Ben. Daripada bengong meratapi nasib.” Kembali ia tawa merekah di bibirnya, namun kali ini berasa dipaksakan. Aku menangkap kesedihan dibaliknya.

“Ada waktu gak, jalan yuk!”

“Kemana?” tanyanya sambil menatapku sayu. Membuatku semakin yakin, ada sesuatu yang sedang membebani pikirannya.

”Ke tempat yang bisa kita gunakan untuk meratapi nasib”, jawabku seraya melirik ke arahnya.

*****

“Kamu cantik sekali, Beb”, aku berbisik halus di telinganya.

Jemari kami saling menjelajah, mencari titik-titik kenikmatan. Tak ada bagian tubuhnya yang luput dari ciumanku.

“Aku hambamu sekarang, Ben,” bisiknya lirih.

*****

“Kenapa kamu mau, Beb?”

“Kamu datang di saat aku sangat membutuhkannya.”

Kupeluk dia. Ya, Bebi ternyata tidak gadis lagi. Mantan pacarnya telah merenggut keperawanannya, setelah itu dia pergi dan menikahi gadis lain, meninggalkan Bebi. Inilah yang menjadi biang kesedihannya.

Akupun tak menyesali apa yang telah terjadi, karena aku sangat menikmatinya. Yang terpenting, aku merasakan jatuh cinta padanya.

Aku tidak mempermasalahkan tentang keadaannya, karena aku mencintainya hari ini, dan untuk esok hari, jadi persetan dengan masa lalunya.

*****

Seorang buah hati hadir ditengah-tengah kami, kunamakan ia Ardi. Aku berharap ia bisa membumi, seperti arti namanya. Keluarga kami harmonis. Meskipun ada beberapa masalah, tapi kami bisa menyelesaikannya, dan mempertahankan tiga tahun usia pernikahan ini.

Tapi tidak untuk masalah kali ini.

*****

Aku melihatnya memasuki hotel bersama seorang pria yang sangat kukenal. Arman, mantan pacarnya. Segera kusongsong mereka, aku ingin tahu apa yang mereka lakukan.

Firasatku benar, desahan intim terdengar jelas dari kamar itu. Hatiku hancur, emosiku memuncak, tapi aku tak ingin menumpahkannya sekarang di tempat ini.

*****

“Dari mana, Mah?” Aku berusaha bertanya sebaik mungkin.

“Dari arisan, Pa, terus pergi belanja deh. Ini aku belikan dasi baru untuk Papah”, kau masih saja berusaha berbohong, gumamku dalam hati.

“Di hotel ya, Mah? Arman kapan dapat giliran arisan?”

Bebi terhenyak, mukanya berubah pucat.

“Apa ini arti dari chatting dengan teman lama di facebook, sms nyasar, atau telpon salah sambung tengah malam?!”

Ia cuma diam dan tertunduk. Hanya air mata yang ia keluarkan untuk menjawab berondongan pertanyaanku.

*****

“Sudah untung aku mau menerima barang bekas seperti dia.” Aku terus saja mengumpat di pinggir danau ini. “Apa kurangnya aku? Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik baginya. Tapi ternyata ia tetap tak bisa menghilangkan cinta masa lalunya.”

Aku benar-benar merasa sebagai pecundang sekarang..

“Tuhan, sungguh aku ingin melaknatinya. Ia telah menghianatiku. Tapi aku tetap tak bisa, aku terlalu bodoh, aku masih sangat mencintainya. Meski sakit, mungkin ini memang takdir-Mu. Biarlah aku yang sakit, aku tidak akan menyakitinya. Semoga engkau lebih bermurah hati padaku di kehidupan mendatang, Tuhan”

*****

Aku terbangun dalam kegelapan. Terdengar sayup tangisan yang mulai menjauh.

“Di mana ini?”. Aku bangkit, tapi tidak dengan tubuhku. Ia terbujur dalam liang lahat. Terlihat rombongan pelayat melangkah meninggalkan makamku. Ada Bebi di sana, Ardi, keluarga, dan teman-temanku dulu. “Terima kasih Tuhan, telah kau bebaskan aku.”

*****

Hari ini ulang tahunkuku dan Ardi. Ya, kami dilahirkan pada tanggal yang sama. Aku rindu pada anakku, dan ingin menjenguknya. Penjaga kuburan juga telah memberikanku izin.

Inilah kali pertama aku berkunjung ke dunia manusia. Aku takut semakin terluka andai terlalu sering berkunjung ke sana. Aku hanya menghabiskan waktu di hunian baru, kuburan. Ruangan kecil di sudut kota para hantu.

*****

“Tiada yang berubah. Sama seperti dulu, kecuali banyak bunga di pekarangan. Mungkin Bebi sedang jatuh cinta lagi atau merayakan kematianku. Ah sudahlah, aku cuma mau menemui Ardi.”

Aku memasuki rumah, kamar Ardi ada di lantai atas. Saat menuju tangga, sayup terdengar suara tangis seorang perempuan.

“Itu Bebi, kenapa dia menangis? Pastinya bukan menangisi kematianku.” Kudekati kamarnya, sekadar ingin tahu kenapa ia menangis, untuk menghilangkan rasa penasaran. Kulihat ia bersimpuh di atas sajadahnya, masih lengkap dengan mukena, berdoa.

“Tuhan, aku bukanlah wanita suci. Aku kotor”.

“Ngaku juga kan akhirnya”, aku menyeletuk.

“Tapi malam ini, di hari ulang tahun suami dan anakku, izinkan aku memohon padamu. Selama ini aku tidak punya kesempatan untuk menjelaskan. Tolong sampaikan pada suamiku yang tercinta, tentang apa yang sebenarnya terjadi, tentang apa yang aku rasakan. Ia salah menilaiku, Tuhan. Aku tak pernah menghianati pernikahan kami. Suamiku terlalu cepat menganggap aku hina. Ia tak pernah tahu bagaimana aku diteror oleh masa laluku. Aku tersiksa, Tuhan. Aku sengaja tak pernah memberi tahu pada suamiku karena aku tak ingin ia terbebani. Tentang kejadian di hotel, engkau saksinya, Tuhan. Kau melihat semua. Aku yang diancam oleh Arman. Arman yang mengancam dan memerasku sambil memutarkan video saat kami pacaran dulu. Tuhan, Engkau Yang Maha Mengetahui lebih dari siapapun. Bukakanlah pintu hati suamiku, aku hanya ingin ia tenang di sisi-Mu. Setidaknya ia mengenang aku bukan sebagai istri durhaka. Perkenankanlah doaku ini Tuhan”.

Bebi menangis dalam doanya. Begitu juga aku yang ikut mendengarkan. Aku benar-benar terhenyak mendengar semuanya.

“Tuhan, Kau begitu pemurah. Malam ini kau kabulkan dua permohonan hamba-Mu sekaligus. Doa Bebi yang ingin aku mendengar dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, serta doaku sesaat sebelum terjun ke danau. Malam ini Kau berikan semua. Kau telah bermurah hati, memberikan aku kebaikan di kehidupan mendatang. Malam ini aku mendapati istri yang setia, istri solehah yang meneteskan air mata ketika mendoakanku.” Aku merasakan jiwaku hidup kembali, meski ragaku telah mati.

Kuhampiri kamar Ardi, putra kesayanganku. “Tuhan yang baik hati, jika masih boleh aku memohon kemurahan hatimu, gantikanlah aku untuk menjaga anak dan istriku. Karena Engkau bisa memberikan yang terbaik dari yang semua kebaikan yang manusia mampu berikan. Aku titipkan mereka padamu, Tuhan”

Dari luar, terdengar hujan turun dengan derasnya. Aku tersenyum. “Tuhan, mungkinkah itu jawaban darimu.” Kucium keningnya, lalu bergegas pulang ke kuburan.

Advertisements
Comments
14 Responses to “Hujan Turun Lagi”
  1. elha says:

    Sumpah… Keren banget ben !!!!

    Hampir nangis ak bacanyaaa; sekali lagi keren banget ….

  2. tuhkan… tuhkannnn… lagi lagi aku merinding dibuatnya.. kerrrennnnnn….

  3. ajeka says:

    aaaakkk *speechless*

  4. inimellow says:

    Hujannya sedih…tapi bagus sekali. Jadi penasaran dengan tulisan-tulisan berikutnya, ditunggu yah! 😀

  5. kuburannya di petak berapa mas? mampir dong ke petak saya hehehe
    tulisannya bikin merinding mas, terharu, nice post thumbs up 🙂

  6. @PramoeAga says:

    Nice story, Benji!! Aku sangat menikmati semua konfliknya.. 🙂

    • benjalang says:

      Whooaaa, Mas Mumu.

      Makasi udah mampir. Dulu pernah di posting ke jejakubikel. Tapi yang ini sedikit di edit, karena versi aslinya berlabel ‘parental advisory’ 🙂

  7. R says:

    eishhhhh. kereeeeen! bakalan blog yang bakal sering kukunjungi.

    *salim*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: