Cincin

“Simpanlah, atau kau boleh membuangnya setelah ini.” Kuletakan cicin itu di meja, ia hanya menunduk.

“Bawa saja, sampai kau temukan seorang wanita yang pantas menerimanya.”

Aku menggeleng. “Cincin itu hanya pantas untukmu, dulu.”

“Indra, kau mungkin menganggapku pecundang. Tidak mampu berjuang dan mempertahankan cintanya. Namun ketahuilah, semua juga berat untukku.”

“Benar, sangat berat. Telingamu pasti mengeluh, setiap mendengar orang lain membicarakan perihal hubungan kita!” Emosiku mulai terpancing kembali. Mendengar alasan-alasannya yang hendak mengakhiri hubungan ini.

“Kau benar, aku sangat lemah. Aku tidak akan membela diri lagi. Terakhir, jika kau berkenan, simpanlah cincin ini. Kelak, hadiahkan pada calon ibu dari anak-anakmu.”

Kata-kata terakhirnya menyayat hatiku, anak? Tersenyum, pria itu segera berlalu meninggalkanku.

Advertisements
Comments
6 Responses to “Cincin”
  1. ajeka says:

    waaaah. ini ceritanya gay gitu ya? :O

  2. kyaknya ada yang nyimpang2 nih hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: