Jendela Hati

Pandanganku menerawang jauh, menembus hujan dari balik jendela.

“Kau tahu permasalahannya. Orang tuaku menunggu kepastianmu.” Pacarku melanjutkan pembelaannya.

“Perjodohan ini baru sebatas rencana, belum ada keputusan.” Tak bergeming, aku masih membuang muka ke jendela.

“Sekarang, telah kuputuskan. Aku akan mengikutimu, jilbab ini akan kulepas.”

“Apa maksudmu?!”

“Jadikan aku istrimu, bimbinglah menjadi hamba-Nya yang benar-benar taat. Ini semua karena cintaku padamu. Kau sanggup?”

Senja mengintip dari jendela, meniadakan hujan. Seolah alam ingin berisyarat, padaku. “Aku ingin menjadi muallaf, dan kelak imam bagimu.”

Seketika air matanya mengucur, “Kau serius?”

“Tentu, demi cintaku padamu, gadis berkerudung ungu.”

Di jendela, bulan sabit tersenyum padaku.

Advertisements
Comments
10 Responses to “Jendela Hati”
  1. ajengjrengg says:

    Feelnya kerasa bangeet 🙂
    Kapan aku bisa nulis beginiaaan.

  2. kok perasaan aku yg jadi gadis berkerudung ungu ya… tersentuh..

  3. Momo DM says:

    Ajarin aku nulis kayak gini, Ben!

  4. inimellow says:

    Percakapan singkat tapi mengena 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: