Pesan Di Pagi Hari

Selamat pagi cinta, semoga harimu ceria

Untuk kedelapan kalinya, aku membaca pesan itu di pagi hari. Ditulis pada sebuah kartu, bersama setangkai bunga mawar. Entah siapa yang meletakannya setiap pagi di meja kerjaku.

Siapapun orangnya, pastilah dia pria romantis. Mengingat zaman yang serba canggih, orang lebih suka menitipkan pesan melalui sms atau jejaring sosial. Jarang sekali yang mengirim bunga seperti ini. Terlihat kuno, tapi penuh kesan.

“Hasseeekk. Pagi-pagi udah dapat kembang aja, Non. Dari siapa, pemuja rahasianya ya?” Celetukan Doni membuyarkan lamunanku. “Sialan, Lo ngagetin gue aja!”

“Hohoho. Lagi ngelamun nih ye!” “Hush, sana pergi, kepo banget sih!” Aku coba mengusirnya. Tapi bukan ngusir juga sih, karena aku selalu senang saat dia menjahiliku. Sebetulnya aku punya perasaan pada Doni, tapi malu juga untuk menyatakan perasaan lebih dulu.

“Eits, jangan sewot dong. Iya gue pergi. Tapi jangan kangenin gue ya.” Dia pergi sembari tertawa-tawa kecil, melirikku nakal. Doni memang pria yang lucu, dia adalah teman yang baik. Aku sih belum begitu lama mengenalnya, dia baru dipindahkan ke kantorku. “Ah, jangan-jangan ini semua kerjaan Doni!” Tiba-tiba saja itu melintas di pikiranku.

“Mungkin juga sih, kan dia masih single. Lagipula, dia aslinya kan memang usil.” Aku mulai berandai-andai.

*****

Hari ini aku berangkat lebih pagi, aku harus mencari pria misterius pengirim bunga itu. “Tapi kalau bukan Doni!?.” Dalam perjalanan, aku kembali menimbang-nimbang. Mengingat aku yang dikenal ramah dan baik pada semua orang, penampilanku juga menarik. Pasti banyak yang naksir aku diam-diam. “Ummm, jangan-jangan satpam di depan.” Aku tersenyum geli memikirkannya semua kemungkinan.

*****

“Cowok yang ngasih bunga ini pasti romantis banget, coba aja kalau ketemu, trus dia ngajak jadian, gue pasti mau deh.”
Doni tersedak, persis seperti yang aku kira. Aku ingin tahu reaksinya, setelah tadi pagi aku memergokinya diam-diam menaruh bunga di mejaku.

“Kenapa Lo?” Tanyaku pura-pura kaget..

“Ah enggak, rendangnya agak keras. Jadi keselek gitu.” Ia coba mengalihkan perhatiaan, tapi aku bisa melihat ia mulai salah tingkah. “Sukurin, emang enak gue kerjain.” Gumamku dalam hati. Tapi sikapnya benar-benar lucu, bikin aku gregetan aja. Coba aja dia berani menyatakan perasaan. Aku masih senyum-senyum melihat sikapnya yang mulai mati gaya saat menyantap makan siangnya.”

*****

“Tega lu ye! Lo pikir gue barang, seenaknya aja bisa lo mainin! Gue punya perasaan, dan gue cinta sama Lo!” Aku tumpahkan segala kekesalan padanya.

“Jujur, sedari awal gue emang punya perasaan sama Lo, Non. Tapi entah kenapa, gue selalu ingat almarhumah pacar gue, Nisa!”

“Terus hubungannya dalam masalah ini?” Aku menatapnya tajam.

“Nisa itu dulunya pacar Abang gue, dan dulu gue ngerebut pacar abang gue sendiri. Setelah kejadian itu, hubungan kami memburuk. Abang gue pergi merantau ke jakarta, menghindari kami. Dia melampiaskan kesedihannya dengan bekerja tak kenal waktu. Kehidupannya berantakan, tak terurus!” Kulihat Doni mulai terbawa perasaan, saat menceritakan masa lalunya.

“Lantas, masalahnya dimana? Bukankah Abang lo udah sukses? Dia pasti bisa dapetin wanita manapun!”

“Sejak gue ngerebut Nisa, dia tidak pernah lagi berhubungan dengan wanita manapun. Dia sangat menutup diri.”

“Kenapa gue? Kenapa gue yang Lo bawa-bawa dalam hal ini?” Emosiku mulai meledak-ledak.

“Lebaran kemarin, saat dia pulang. Gue ngeliat dia suka merhatiin foto-foto lo di komputer gue.”

“Foto?” Tanyaku heran.

“Seperti yang gue bilang, sejak awal gue juga jatuh cinta, pada kamu Noni. Gue nyimpan foto lo yang sering gue ambil diam-diam pas lo kerja.”

“Damn! Dan kayak gini cara Lo mencintai gue?”

“Maafin gue, kalau Lo tersinggung. Tapi cuma ini yang bisa gue lakuin, untuk menebus kesalahan gue dan Almarhumah Nisa. Sebelum Abang Gue bahagia, Gue ga bakal mencari kebahagiaan untuk diri Gue. Gue permisi, maaf sekali lagi!” Ia kemudian beranjak pergi. Aku tak menghiraukannya.

“Oh, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan.” Aku membatin dengan semua ini.

*****

“Selamat pagi cinta, semoga harimu ceria.”

Seperti biasa, setiap akhir pekan mereka selalu kemari, mengunjungi kami. Aku bahagia melihat Doni dan Abangnya bisa akur, meskipun aku harus kehilangan nyawaku, karena kecelakaan yang kualami dalam perjalanan ke gereja, di hari pernikahanku dengan Dino, Abangnya Doni.

“Terima kasih, Non. Ini semua berkatmu.” Nisa memelukku. Ya, Nisa kini menjadi teman baikku di komplek pemakaman ini.

Advertisements
Comments
10 Responses to “Pesan Di Pagi Hari”
  1. Momo DM says:

    Keren! Suka! πŸ™‚ Salam.

  2. mumu says:

    Huwwwwooooooo… Love is about sacrifice.. Benji!!!

  3. kereeen, love this one… ^^

  4. te says:

    woohooo, keren nih

  5. kenapa kau curi perhatianku dengan karyamu…. #eaaaa … tapi beneran nih sukaaa.. gudjob..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: