Ulangan Masa Depan

Kulihat lagi soal di kertas itu, masih sama. Seperti segerombolan angka yang sedang baris berbaris. Membuat kepalaku pusing, sekaligus mengantuk.

Hari ini ulangan matematika, ya matematika. Pelajaran yang selalu jadi momok menakutkan bagi murid yang kapasitas otaknya pas-pasan sepertiku.

Seperti biasa, dalam situasi darurat seperti ini, aku harus memberdayakan kelihaianku dalam mencontek. “Semoga setan memberiku jalan.” Gumamku dalam hati, maka segera aku maksimalkan segala potensi yang kumiliki, demi kelancaran misi ini.

Targetku adalah Rina, sang juara kelas. Kebetulan dia duduk tepat di depanku. Setelah merasa situasi kondusif, dan guru pengawas sibuk membaca di depan, aku segera melancarkan aksiku.

******

Aku melihatnya sibuk bersama buku-buku pelajaran. Minat belajarnya memang sangat tinggi, beda jauh denganku yang pemalas.

“Udahan dulu belajarnya, lebih baik sekarang istirahat. Jangan sampai besok telat bangun, kan ada ulangan.”

“Iya, mamaku sayang.” Ia segera merapikan buku-buku dan perlengkapan ke sekolah. Ibunya membantu untuk mengecek kelengkapan.

“Semoga ulangannya sukses.” Ujarku sembari tersenyum pada mereka.

*****

“Saya yang salah, Bu. Saya yang mencontek.” Aku menjawab semua dakwaan dari guru pengawas.

“Nah, akhirnya kamu mengaku juga. Dan kamu, Rina. Kenapa kamu memberinya contekan?” Guru pengawas itu makin menyeramkan saja, sekarang giliran Rina yang diserang. Rina sangat ketakutan, aku bisa melihat matanya mulai merah dan berair. “Saya tidak tahu, Bu. Saya hanya mengerjakan soal, tidak memperhatikan ke belakang.” Rina menjawab pertanyaan guru seram itu dengan terbata-bata.

“Ibu, yang mencontek itu saya! Jadi kenapa Rina harus dikait-kaitkan. Sudah jelas dia itu korban. Ibu harus objektif dalam hal ini. Jangan ikut-ikutan gaya pemerintah di negeri ini lah, malah korban yang di hukum!” Guru itu menatap tajam padaku. Aku sendiri tidak percaya dengan yang barusan aku katakan.

“Keluar!! Berdiri di depan tiang bendera sampai jam pelajaran habis.” Akhirnya ia mengusirku. “Permisi, Bu.” Aku bergegas meninggalkan ruangan. “Maafkan aku, karena telah membuatmu terseret dalam hal ini.” Rina tak menanggapiku. Akupun segera berlalu.

*****

“Wah, kayaknya lagi seru nih. Lagi ngobrolin apa?” Kuhampiri mereka yang sedang tertawa menyambut kedatanganku.

“Tadi temanku ada yang disuruh berdiri di lapangan, karena mencontek kertas ulanganku.”

“Persis seperti kejadian yang menimpa papanya dulu.” Istriku menimpali cerita anakku, seraya tertawa.

“Kamu serius, Nak?” Tanyaku heran.

“Serius, papaku sayang.” Tasya anakku tertawa. “Mama bilang, dulu papa juga pernah mencontek dan di hukum di lapangan ya.” Sekarang ia meledekku.

“Kalau dulu papa tidak mencontek, mana mungkin mamamu bisa suka sama papa.” Kulirik ke arah istriku.

“Iya, karena sikapnya yang sok pahlawan waktu itu bikin mama jatuh cinta.” Istriku menggelayut manja di lenganku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: