Tipuan Yang Indah

Dengan mantap, aku melangkah maju ke depan ruangan. Semua mata memandang ke arahku, tak terkecuali dia. Ah, seperti apakah tatapannya, aku terlalu gugup untuk menoleh padanya.

Aku begitu bangga, sebab sesampainya di depan, aku akan dilantik menjadi ketua OSIS. Semua berkat kerja kerasku untuk mendapatkan, dia. “Semoga dia bangga!” Aku berharap dalam hati.

*****

Semua ini terjadi karena dia. Aku yang semula dikenal sebagai siswa berandalan di sekolah, tukang bolos, dan sejumlah julukan negatif lainnya. Semua berubah, setelah pembicaraan singkatku dengan dia.

Dia, dialah dia. Gadis populer di sekolah. Cantik, pintar, dan berasal dari keluarga kaya. Modal yang sempurna untuk diidolakan oleh para siswa, termasuk aku.

Tapi cuma sebatas mengidolakan, karena aku tahu pasti dia tidak akan mau berteman denganku, apalagi lebih dari teman. Maka dari itu, aku hanya menyimpan kekaguman saja, tanpa pernah mencoba cari perhatian seperti yang lain.

*****

“Mau mengajariku bolos?” Terperanjat, aku melihat asal suara itu, milik dia.

“Kamu pasti bercanda, lagian kenapa kamu ingin bolos?” Aku menjawab sekenanya. “Entahlah, aku ingin jadi seorang pembolos. Sepertinya seru.” Senyumnya begitu indah, ini kali pertama aku berbicara dengannya, dan melihat wajahnya begitu dekat.

“Ada-ada saja, lebih baik kamu belajar yang benar. Nanti juara kelasnya melayang loh.”

“Pelajaran sekolah itu membosankan. Aku ingin belajar yang lain.” Matanya mengerling padaku. “Belajar yang lain?” Aku bertanya dengan penasaran.

“Belajar mencintaimu, misalnya.” Ia tertawa dengan renyah. Aku tahu ia pasti sedang bercanda, aku hanya membalasnya dengan tertawa.

“Kau pikir aku bercanda? Aku tahu kau sering memperhatikanku, aku juga tahu kau menyukaiku.” Kali ini aku benar-benar terperanjat diberondong pernyataan seperti itu.

“Sudahlah, tak perlu malu. Kalau kau memang menyukaiku, tolong wujudkan cita-citaku sedari dulu. Aku ingin punya pacar ketua OSIS!” Ia segera pergi, meninggalkanku yang masih ternganga.

*****

“Maaf, aku terlambat. Tadi ada rapat dengan kepala sekolah. Jadi pacarmu yang tampan ini harus menghadirinya, kan aku ketua OSIS.” Aku mengusap batu nisan di kuburannya.

*****

“Randy, terima kasih. Kau telah mewujudkan cita-citaku, aku punya kekasih yang hebat sepertimu. Seorang ketua OSIS. Kau boleh marah, jika merasa aku telah menipumu. Tapi jujur, aku sangat mencintaimu.”

Air mataku menetes, setelah membaca surat dari dia. “Sabar, Nak Randy. Nadya terpaksa di bawa orang tuanya ke singapura. Disana penyakit leukimia nya bisa diobati dengan lebih baik.” Pamannya yang mengantarkan surat coba menenangkanku. Guru-guru yang melihat ikut merasakan kesedihanku, sebab mereka juga tidak mengetahui perihal ini.

*****

Sudah hampir sebulan, kami jadian. Berpacaran dan menikmati kisah kasih di sekolah. Aku benar-benar bahagia, karena tidak pernah membayangkan ini sebelumnya.

“Randy, kamu di panggil ke ruangan guru.” Teriak temanku, menyadarkan lamunanku. “Ah, menggangu saja!” Celetukku, kumasukan lagi buku catatan pelajaran hari ini ke dalam tas. Sudah seminggu dia sakit, tak masuk sekolah. Aku tak ingin dia ketinggalan pelajaran. Karena itu aku selalu menyalinkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: