Ternyata Seperti Itu

“Oke, mari kita sarapan pagi, Boy.” Kutarik nafas melihat tumpukan berkas di meja kerjaku.

“Aneh, waktu pacaran semangat banget buat kawin. Setelah menikah, ada-ada saja alasan untuk bercerai. Dasar manusia labil!” Aku terus mengoceh, sembari memeriksa berkas pemutusan hubungan kontrak mereka dengan Tuhan. “Maafkan aku, Tuhan. Aku hanya pengacara yang mencari sesuap nasi.”

“Riko, ke ruangan saya sekarang.”

“Baik, Mbak.” Kutinggalkan ocehan dan pekerjaan yang belum selesai tadi. “Tumben doi nyuruh ke ruangan segala, ada angin apa nih.”

*****

“Kamu hebat! Baru kali ini saya merasa sangat terpuaskan.”

“Mbak juga luar biasa. Sangat menggairahkan!” Aku masih terbuai setelah ledakan birahi barusan.

“Ya begitulah, Riko. Suamiku sudah tua, dia tidak mampu lagi mengimbangiku di ranjang, jadi gairahku sering terpendam.” Ia tersenyum, lalu merapikan pakaiannya.

“Ceraikan saja Mbak!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: