Tiga Dunia

“Oke, Sayangku. Nanti malam jemput ke rumah ya.” Kubalas sms dari pacarku. Yup, layaknya pasangan yang lain, malam minggu adalah momen sakral. Waktu terbaik untuk dihabiskan bersama pasangan, dan malam ini kami akan menghadiri acara ulang tahun temannya.

Namaku, Anita. Wanita biasa yang selalu bermimpi jadi luar biasa. Terkesan klise, namun aku selalu berusaha agar semua orang menyenangiku. Setidaknya, orang disekitarku selalu menyambut hangat kehadiranku. Mereka bilang aku supel dan ceria, yang terpenting aku selalu bisa menghangatkan suasana. Itu pandangan mereka, dan aku berbahagia bisa bersama-sama dengan mereka.

“Huy, ngelamun aja! Malam masih lama, Non!” Suara cempreng ini mengagetkanku, pemiliknya adalah Risa, sahabatku.

“Iya, dong. Secara gue mau kencan gitu loh!” Kulemparkan senyum kepadanya. “Tau deh, yang mau pergi kencan sama bebeb-nya!” Sungut Risa menghampiri meja kerjaku.

“Ah, jangan gitu lah. Kamu kan juga kencan malam ini, sama bebe-mu! Hihihi…” Dia langsung mencubit lenganku. “Rese’ ah, mentang-mentang deh!”

Setahun belakangan, Risa menjalani hubungan jarak jauh dengan pacarnya. Antar kota, lintas pulau. Jadi kalau menyangkut malam minggu, sensitivitasnya mulai meningkat.

“Berdoa saja, semoga sinyalnya bersahabat dan desahan-desahan rindu kalian tersampaikan. Hahaha…” Aku tertawa lepas, dia kembali mencubitku. “Sialan lo ya!”

“Heh! Ini Ibu-Ibu arisan udah beraksi saja di jam kantor.” Kali ini Dita yang datang menyambangi kami.

“Ouch! Ibu suri tengah patroli rupanya.” Jawabku ditimpali tawa Risa yang pecah.

“Dasar, rumpi deh kalian. Pasti mau ngobrolin malam mingguan ya?” Nah, diantara kami bertiga, Dita ini masih betah menjomblo. Sedikit aneh, padahal diantara kami, dia yang paling menarik dan digilai banyak pria. Tapi sepertinya dia belum mau melepas kejombloannya.

“Pastinya dong. Kan malam minggu. Lu ada acara apa Dit?” tanya Risa. “Ga tau nih. Lagi ga enak body, palingan di rumah aja.”

“Ah, alasan. Bilang aja lo males keluar sendirian kan” celetukku sambil mengetik sisa laporan kerjaku”

“Dit, lo kenapa?” teriak Risa melihat Dita terkapar. “Kenapa nih anak?” Aku segera menghampiri Risa yang coba menyadarkan Dita. “Ga tau, badannya panas” ujar Raisa.

“Kita bawa ke rumah sakit saja, badannya panas banget” usulku. “Oke, gue siapin mobil di bawah”

*****

“Sayang, tadi Dita itu pingsan di kantor. Jadi sekarang aku bareng Risa nemenin dia.” Aku coba menjelaskan pada Rio, pacarku di telpon.

“Halah, paling cuma kecapekan. Udah, tinggalin aja. Kamu kan udah janji mau nemenin aku ke pesta ulang tahun temenku. Lagian di sana juga sudah ada Risa.” Sepertinya ia kesal karena aku berniat membatalkan janji.

“Iya sayang, tapi ini kan mendadak. Ga mungkin juga aku biarin Risa sendirian di sini. Kamu kan tahu, dulu saat aku sakit, mereka selalu nemenin aku juga.”

“Wajar saja. Yang satu jomblo, yang satu LDR. Jadi mereka punya banyak waktu. Tapi kamu? Kamu itu pacarku, kamu harusnya lebih mentingin aku dari pada temen-temen kamu yang ga jelas itu!” Suaranya seolah menghardikku.

“Sayangku cintaku, mengerti dikit ya. Ini cuma karena Dita sedang sakit saja, jangan nyerempet kemana-mana ya.” Aku berusaha menahan diri agar tidak timbul masalah.

“Biasanya juga seperti ini! Setiap hari kamu bareng mereka terus. Cuma weekend kita bisa bertemu, dan sekarang kamu seenaknya membatalkan dengan hal yang tidak penting seperti ini!! Dari dulu, aku memang tidak pernah suka kamu berteman dengan orang aneh seperti mereka. Bisanya cuma menyusahkan teman saja!!!” Tak tahan, kumatikan telpon darinya. Sebelum masalahnya kian runyam.

Kesabaranku ada batasnya juga. Dita dan Risa adalah teman-teman terbaikku, aku juga tidak senang orang lain berkomentar miring pada mereka. Bahkan pacarku sekalipun. Dari dulu, Rio memang berpikiran aneh tentang mereka. Padahal sudah berulangkali aku menjelaskan dan coba mengubah pemikirannya. Tapi semua sia-sia.

Aku kembali ke kamar rawat Dita. Kondisinya sudah mulai membaik kata Dokter, hanya saja harus menunggu sampai ia siuman. Dia cuma kelelahan dan kondisi tubuhnya drop. Tidak biasanya dia seperti ini. Selama ini, dia paling jarang sakit. Mungkin karena sibuk mengurus pembukaan kantor cabang yang baru.

“Kenapa lo, Ris. Muka dilipet gitu” tanyaku pada Risa yang baru masuk dan menghampiriku. “Kesel gue sama Anton. Tadi kan gue telat bales sms dan angkat telpon dia, karena kita lagi panik ngurusin Dita. Hp juga ketinggalan di kantor, dan gue juga lupa sih buat ngabarin dia karena gue terlalu cemas sama Dita. Eh, dia malah nyolot ga karuan. Padahal gue udah coba jelasin, tapi dia malah mete-mete ga jelas” cerocos Risa dengan nafasnya yang tersengal menahan kesal.

“Udah gitu, dia malah nyuruh gue balik ke kost. Udah malem katanya, masa masih keluyuran juga. Aneh banget!”

“Kalian kenapa sih.” Itu suara Dita, dia siuman. Mungkin karena mendengar suara cempreng Risa yang berisik barusan.

“Syukurlah, nona cantik ini sudah siuman” ujarku padanya. “Iya nih, lama bet bubunya” timpal Risa.

“Hehe, ga tau nih. Gue berasa punya setengah nyawa di tubuh nih. Lemes bet lemes.” jawabnya dengan aksen lebay. “Loh, kok kamu masih di sini, Nit? Bukannya kamu ada janji sama Rio?”

“Oh iya, kamu ada janji ya? Pergi aja Nit, biar gue yang jagain Dita.”

“Ga ah. Gue mau di sini aja bareng kalian. Lagipula udah lama kan kita ga pernah malam mingguan bareng” jawabku sekenanya.

“Gue tau. Pasti ini jadi masalah kan. Lo ga usah bohong, gue tau siapa elo. Maafin gue ya, Nit. Gara-gara gue lo jadi bermasalah sama Rio” ujar Dita memelas.

“Lebay lu ah, minta maap ke Risa tuh. Yayang Anton-nya marah-marah juga tuh.” Ledekku pada Risa.

“Udah ah, lupain aja. Yang terpenting, kita bareng-bareng di sini. Kita ini udah kayak saudara loh, udah seharusnya jika ada saudara yang sakit kita harus merawatnya. Ini mutlak dan wajib loh” mendadak Risa jadi sok bijaksana.

Kami tertawa lepas, seolah tidak ada beban malam ini. Malam minggu yang haru, bersama orang-orang terkasih. Kadang teman-teman memang lebih bisa mengerti kita, ketimbang pasangan sendiri.

Advertisements
Comments
2 Responses to “Tiga Dunia”
  1. persahabatan yg membuat iri… nice ^^

  2. Benjalang says:

    Terima kasih, Kawan. Sudah mampir ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: