Cindy Sayang Papa

“Sayanga, aku berangkat ke kantor dulu”.

“Hati-hati Sayang”, kucium mesra bibirnya.

*****

Aku baru saja tersadar dari bius seusai operasi. Kurabai daerah selangkangan, dan hatikupun langsung lega. “Kini aku bisa membahagiakanmu seutuhnya”, kulirik papa tertidur di kursi pengunjung rumah sakit.

*****

“Gila kamu Rendi, hal begini saja sudah sangat tidak normal”.

“Lantas kenapa? Aku ingin membahagiakanmu, dengan sempurna, apa itu salah!”, aku bersikeras ingin melakukan operasi itu.

*****

Malam ini papa mabuk lagi. Ia sangat terpukul setelah kematian Ibu. Aku membopongnya ke kamar, menggantikan pakaiannya. Tiba-tiba ia menggelinjang saat aku membuka celananya, jujur akupun mendadak rasakan keanehan dalam tubuhku, menjalar, terlebih saat dia membimbing tanganku menyentuh lebih dalam ke balik celana.

*****

Kini hanya tinggal aku dan papa. Kecelakaan telah membawa ibu selamanya, terlalu cepat. Bahkan ia belum sempat melihatku menjadi sarjana keperawatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: