Sampai Kapan?

“Mau pakai punya saya Bu?”, seorang pria menyodoriku sehelai sapu tangan.

“Terima kasih Nak”, aku tersenyum seraya melempar senyum padanya.

Ia membalas dengan senyuman yang ramah, begitu hangat. Kami mulai berbicara banyak hal menjelang senja, tepatnya aku menceritakan keluh kesah yang sedang kualami saat ini. Dia adalah pendengar yang baik, itu kesan yang kutangkap darinya.

*****

“Dengar Ana, Mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian!!! Sampai kapanpun!!”.

“Tapi kenapa Ma?”.

“Kau masih bertanya, sudah jelas-jelas dia berbeda dengan kita”.

“Karena keyakinannya?”.

*****

“Kamu sudah punya pacar?”, tanyaku saat pertemuan kami yang kedua. “Sudah Bu, bahkan kami berencana menikah. Tapi Ibunya tidak merestuinya”.

“Kenapa?”.

“Karena dia memiliki Ibu yang hebat, Ibu yang tak ingin putrinya mendapatkan pasangan yang salah”, matanya berkaca-kaca, isyaratkan beban yang ia pendamkan.

“Bersabarlah Nak, Tuhan tak akan pernah sia-sia pada umat-Nya. Ibu ikut medo’akan semoga kelak hati orang tua pacarmu luluh, sehingga bisa menerima hubungan kalian”.

*****

Tertegun, kupandangi lebih lekat foto pernikahan Ana yang diantar kurir tadi pagi. “Tuhan, kau memang tak pernah sia-sia”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: