Maafkan Aku Rina

“Jadi siapa yang kelak menjadi temanku di rumah, Pa?”, istriku Rina berusaha tegar menanggapi niatanku.

*****

“Selamat Pak Toro, Anda akan segera menjadi Bapak”, kugenggami tangan Winda. Aku benar-benar bahagia mendengar perkataan Dokter itu. Impianku akhirnya dapat terwujud.

*****

Makan malam kali ini terasa begitu hangat, tampak binar kebahagiaan di wajah Winda. Sementara Rina, seperti biasanya selalu terlihat manis, meski kutahu ia berusaha menutupi kegetirannya, saat kami membicarakan perihal kehamilan Winda.

*****

“Pak Toro, sepertinya kandungan istri Anda bermasalah, sepertinya ia mengalami depresi yang cukup berat?”, kumenatap tajam ke arah Rina. Ia tak berani melihat ke arahku. “Maafkan aku, aku tak ingin anak dalam rahimku mengganggu kebahagianmu, Pah”. “Anakmu kau bilang? Bayi itu anak kita Rin, kenapa kau tak pernah bilang!!”

*****

Rina pergi setelah memenuhi keinginanku, menjadi seorang ayah. Pada hari ini aku merasakan kedatangan dan kehilangan sekaligus. Aku mendapatkan sepasang buah hati dari Winda dan Rina, serta kehilangan seorang belahan jiwaku.

“Aku berjanji, akan membesarkan putri kita, dia pasti cantik dan lembut sepertimu”, air mataku tak bisa berhenti mengucur. Betapa aku sudah sangat bersalah pada Rina, menyia-nyiakannya.

“Tunggu aku di sana, Mah. Aku pasti akan datang untuk menemuimu sayangku”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: