Cemburu Yang Menggugat

Dear, Rahne Putri.

Entah kenapa, mataku terasa begitu pedas saat membaca bebalasan suratmu dengan Jepri a.k.a. Zarry Hendrik.

Mungkin semua karena aku yang terlalu mengagumimu; seorang pengagum yang tak pernah kau kenali. Terdengar aneh, namun begitulah adanya. Meski belum pernah bertemu, tetapi aku merasa kau berada sangat dekat dan mendekapku, Ne.

Kau telah menjadi kebiasaan dalam hariku. @rahneputri adalah tempat yang selalu kukunjungi sebelum mata ini melihat mentari di langit pagi, dan menjadi taman bermain mencari cerita pengantar di tiap-tiap malam sebelum lelap.

Aku menyukai semua yang kau kicaukan di sana. Kata-kata manis terindah, lelucon pengundang senyum dan menggelitik, serta semua percakapan singkat dengan teman-temanmu. Semua membuatku semakin mengagumi kekhasan dirimu. Manis!

Beberapakali aku pernah coba untuk menyapa, dan sesekali kau membalasnya. Tahukah engkau, Ne. Betapa keriangan membuncah dalam hatiku, setiap kali menerima balasan sapaan darimu. Meski sekedar emote senyum dan tawa singkat. Itu adalah hal sederhana yang menyempurnakan rinduku padamu.

Namun kali ini, aku benar-benar cemburu. Lagi-lagi terdengar aneh, aku yang entah darimana bermuasal, bukanlah siapa-siapa; dengan lancangnya menggugatmu dengan kecemburuan. Tapi memang itulah yang sejujurnya aku rasakan. Aku cemburu, Ne.

Aku takkan pernah bisa berkata-kata indah layaknya Jepri; memikatmu dengan angkasanya yang terluas. Aku hanyalah debu kecil di jalanan, berharap diterbangkan angin menuju matamu. Hingga kau kelilipan, dan seterusnya kau akan membenciku.

Setidaknya, dengan begitu kau akan mengingatku. Sebab katamu; kau lebih suka mengingat sebuah momen, dan aku ingin berada di sebuah momen dalam harimu. Meski dalam sepele; kelilipan yang menggusarkan hatimu.

Ne, saat menuliskan surat ini, aku tak berharap terlalu muluk; kau membaca apalagi membalasnya. Aku hanya ingin jujur pada cemburu yang menguasaiku. Cemburu yang tersulut dari patahan kata-kata yang kau dan Jepri tebarkan dalam unggun kekagumanku.

Namun pada akhirnya aku menyadari. Kekagumanku takkan pernah bisa menyentuh hatimu; padang luas dengan bunga-bunga mimpi yang dicitrakan nyata. Maka aku pilih kembali menjadi debu yang mendamba angin, untuk bisa sampai di dekatmu; tak dikenali, butiran teramat kecil yang terabaikan.

Peluk dan kecup untuk jemarimu yang selalu menghadirkan berbagai nuansa keindahan kata; dalam hariku, dalam hatiku.

Dari pengagummu yang masih memendam cemburu, benji.

Advertisement
Comments
6 Responses to “Cemburu Yang Menggugat”
  1. sita says:

    *ambil sapu*
    *sapu debu*
    Nice letter :)

  2. Zheetarie says:

    Duh berasa sedih etapi ini hrs sedih ato gmn ya hehe,suka sm tulisan nya :D

  3. lilac9 says:

    hmm… to see one we love happy is another happiness, right?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 853 other followers